Kenapa Irlandia Punya Solidaritas Tinggi terhadap Palestina? Ini Akar Sejarahnya

Kenapa Irlandia Punya Solidaritas Tinggi terhadap Palestina? Ini Akar Sejarahnya
Kenapa Irlandia Punya Solidaritas Tinggi terhadap Palestina? Ini Akar Sejarahnya

Cakrawala News – 21 September 2026 | Kenapa Irlandia punya solidaritas tinggi terhadap Palestina? Pertanyaan ini kembali mencuat setelah rangkaian konser Loop Tour Ed Sheeran menuai kecaman, terutama dari publik Irlandia, karena sang musisi mengeluarkan rapper Macklemore dari tur usai menyuarakan dukungan untuk Palestina. Irlandia dikenal sebagai salah satu negara Eropa yang paling vokal membela Palestina, baik di level pemerintah maupun masyarakat sipil.

Dukungan itu bukan sikap sesaat. Ia berakar pada sejarah panjang penjajahan yang dialami Irlandia sendiri, serta komitmen politik yang telah dibangun sejak puluhan tahun lalu.

Warisan Sejarah Penjajahan Inggris

Pada masa kejayaannya, Kerajaan Inggris sering digambarkan sebagai kekaisaran yang mataharinya tak pernah tenggelam. Namun, jauh sebelum menguasai wilayah di belahan dunia lain, Inggris lebih dulu menduduki negara-negara tetangganya, termasuk Irlandia.

Upaya pendudukan Inggris atas Irlandia dimulai sejak abad ke-12. Pada abad ke-16, Ratu Elizabeth I mendorong kaum Protestan Skotlandia untuk bermigrasi besar-besaran ke wilayah Ulster di Irlandia Utara. Di sana mereka mendirikan pemukiman dengan mengambil alih tanah milik umat Katolik Gaelik.

Kebijakan itu menjadi cikal bakal sejumlah pemberontakan selama berabad-abad, salah satunya Easter Rising atau Pemberontakan Paskah pada 24 April 1916. Dalam peristiwa itu, kaum nasionalis Irlandia merebut gedung-gedung penting di Dublin dan memproklamasikan kemerdekaan Republik Irlandia.

Negara Irlandia resmi berdiri pada 1922, meski saat itu statusnya masih bagian dari Commonwealth. Baru pada 18 April 1949, Irlandia berdiri sendiri sebagai Republik Irlandia.

Melihat Palestina dalam Cermin Sejarah Sendiri

Orang-orang Irlandia yang hidup saat ini memang tidak merasakan langsung penjajahan masa lalu. Namun, mereka melihat pengalaman sejarah bangsanya tercermin dalam apa yang terjadi di Palestina. Inilah salah satu alasan utama kenapa Irlandia punya solidaritas tinggi terhadap Palestina.

Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina bahkan sudah disuarakan sejak puluhan tahun silam. Menurut Government of Ireland, sejak 1980 pemerintah Irlandia memberikan prioritas tinggi pada pencapaian solusi dua negara. Mereka juga menyoroti ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia yang diderita warga Palestina akibat pendudukan Israel.

Puncaknya terjadi pada 28 Mei 2024, ketika Irlandia resmi mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Langkah itu menjadikan Irlandia salah satu negara Barat pertama yang memberikan pengakuan tersebut. Setahun kemudian, Parlemen Irlandia mengesahkan RUU wilayah kependudukan, yang salah satu poinnya melarang perdagangan barang dari pemukiman ilegal Israel.

Dukungan yang Hidup di Masyarakat

Solidaritas tidak hanya datang dari pemerintah. Menurut laporan RTÉ, pada 19 Juli 2025 sebanyak 10 ribu orang berkumpul di Dublin untuk menyuarakan dukungan terhadap Palestina. Mereka yang hadir bukan hanya masyarakat biasa, melainkan juga perwakilan gereja, serikat pekerja, hingga partai pekerja.

Gelombang dukungan serupa kembali terlihat dalam polemik konser Ed Sheeran. Rapper Macklemore dicoret dari daftar pengisi acara setelah meneriakkan seruan Free Palestina pada konser 5 September di New Jersey. Keputusan itu kemudian diikuti sejumlah musisi dan artis pendukung Loop Tour lainnya.

Ed Sheeran akhirnya buka suara soal Gaza di atas panggung Lincoln Financial Field, Philadelphia, Amerika Serikat. Ia menyatakan konsernya selalu menjadi ruang aman bagi siapa saja, namun situasi yang terjadi menempatkannya di tengah perdebatan penting mengenai kebebasan berpendapat dan isu politik paling rumit di dunia.

Dalam pernyataannya, Ed Sheeran menegaskan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebagai hal mengerikan. Namun ia juga menyebut apa yang terjadi di Gaza sebagai bencana, tidak dapat dibenarkan, dan tidak adil. Ia mengaku hatinya hancur melihat besarnya kehancuran serta hilangnya nyawa warga sipil dan anak-anak, dan menilai ketidakadilan sistemik di Tepi Barat tidak boleh diabaikan.

Konteks Politik yang Lebih Luas

Isu solidaritas Irlandia terhadap Palestina juga tak lepas dari dinamika politik di Britania Raya. Para pemimpin Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara berkumpul di Cardiff pada 14 September 2026 dan meneken kesepakatan bersama tentang hak masyarakat menentukan nasib sendiri.

Kesepakatan itu diteken Pemimpin Skotlandia John Swinney, Pemimpin Wales Rhun ap Iowerth, dan Pemimpin Irlandia Utara Michelle O’Neill. Ketiganya berasal dari partai dengan agenda nasionalisme di wilayah masing-masing, yakni SNP, Plaid Cymru, dan Sinn Fein.

Di Irlandia Utara, isu yang berkembang lebih banyak berkaitan dengan kemungkinan bersatu dengan Republik Irlandia. Sementara Skotlandia memiliki gerakan kemerdekaan paling lama dan paling kuat, dan Wales memiliki dukungan kemerdekaan yang relatif lebih kecil.

Kesamaan pengalaman sebagai wilayah yang pernah atau masih bergulat dengan kedaulatan inilah yang membuat banyak warga Irlandia merasa terhubung dengan perjuangan Palestina. Bagi mereka, mendukung Palestina bukan sekadar sikap politik luar negeri, melainkan bagian dari identitas historis bangsa.

Ke depan, posisi Irlandia diperkirakan tetap menjadi sorotan, terutama ketika tekanan internasional soal Gaza terus berkembang. Yang perlu dicermati adalah bagaimana pemerintah Irlandia menerjemahkan solidaritas itu menjadi kebijakan konkret, serta bagaimana reaksi publik merespons dinamika di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *