Cakrawala News – 22 Oktober 2026 | Detik-detik rudal Houthi hantam markas militer di Yaman, tewaskan 53 orang & ratusan lainnya terluka terjadi di Provinsi Shabwa, wilayah selatan negara itu, pada Senin (19/10/2026). Serangan itu menyasar sebuah pusat pelatihan keamanan di dalam Pangkalan Militer Al-Alam, tepat saat personel keamanan internal yang baru direkrut tengah menjalani pelatihan kedinasan.
Pemerintah Provinsi Shabwa menyatakan lebih dari 53 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya mengalami luka-luka. Jumlah tersebut masih bersifat sementara, sementara para korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit pemerintah dan swasta di wilayah itu.
Dalam pernyataan di platform media sosial Facebook, pemerintah lokal Shabwa mengonfirmasi bahwa beberapa rudal balistik menghantam Pusat Pelatihan Ahmed Al-Sulaimani. Pusat pelatihan itu berlokasi di dalam Pangkalan Militer Al-Alam, Distrik Jardan, dekat Ataq, ibu kota Provinsi Shabwa.
Lonjakan Korban dan Evakuasi
Angka korban jiwa melonjak tajam dibandingkan data awal pihak medis lokal. Sebelumnya, laporan awal menyebutkan sedikitnya 25 tentara tewas dan lebih dari 30 orang luka-luka akibat tiga rudal yang menghantam fasilitas tersebut.
Tim darurat terus mengevakuasi para korban dari lokasi kejadian, sementara rumah sakit disiagakan untuk menerima korban luka. Pasien yang berada dalam kondisi kritis rencananya akan dipindahkan ke fasilitas medis khusus apabila memerlukan penanganan lebih lanjut.
Peristiwa ini berlangsung di tengah eskalasi pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi. Pangkalan Al-Alam sendiri merupakan fasilitas militer besar yang digunakan oleh pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Desakan Pertahanan Udara dari Otoritas Shabwa
Menanggapi insiden tersebut, otoritas Shabwa mendesak pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk memperkuat kemampuan pertahanan di provinsi yang kaya akan minyak itu. Mereka secara spesifik meminta penyediaan sistem pertahanan udara, sistem pengawasan, serta sistem peringatan dini untuk melindungi wilayah tersebut.
Pemerintah setempat menegaskan bahwa tragedi tersebut menuntut langkah konkret dari pemerintah dan koalisi sekutu. Otoritas lokal Shabwa menyebut skala tragedi ini tidak bisa hanya ditanggapi dengan kecaman semata, melainkan memerlukan langkah-langkah militer dan keamanan mendesak untuk mencegah serangan serupa terulang kembali.
Kelompok Houthi kemudian mengeklaim bertanggung jawab atas serangan yang menyasar instalasi militer di Provinsi Shabwa tersebut. Saluran televisi al-Masirah milik kelompok Houthi mengutip sumber militer yang menyebut pasukannya telah menyerang perkumpulan dari apa yang mereka sebut sebagai pasukan yang didukung Arab Saudi di Pangkalan Militer Al-Alam.
Melalui siaran televisi tersebut, kelompok Houthi turut memperbarui seruan kepada seluruh rakyat Yaman untuk meninggalkan kamp militer yang menurut klaim mereka menjadi lokasi mobilisasi pasukan oleh Arab Saudi.
Rangkaian Serangan Houthi di Yaman
Serangan di Shabwa bukan insiden pertama yang menyasar fasilitas penting pemerintah Yaman dalam beberapa hari terakhir. Pada Kamis (15/10/2026), kompleks istana kepresidenan Yaman di Kota Aden diguncang serangan rudal dan pesawat nirawak yang dilesatkan milisi Houthi.
Menteri Kesehatan Yaman, Qasim Buhaibeh, menyatakan lima orang tewas dan 16 lainnya terluka dalam serangan itu. Korban jiwa dan luka-luka tersebut mencakup petugas keamanan yang berjaga di kompleks serta pegawai sipil. Menteri Informasi Yaman, Moammar al-Eryani, memastikan perdana menteri dan para anggota kabinet dalam keadaan selamat.
Perdana Menteri Yaman, Shaya al-Zindani, mengecam serangan rudal Houthi itu sebagai tindakan pengecut. Ia menyebut serangan tersebut sebagai kelanjutan dari pola kriminal Houthi yang kerap menargetkan warga sipil dan fasilitas-fasilitas sipil.
Juru bicara militer milisi Houthi, Yahya Saree, mengeklaim pasukannya telah membombardir lokasi yang ia sebut sebagai markas operasi militer Arab Saudi di Aden. Houthi mengeklaim markas tersebut dijalankan oleh perwira Arab Saudi dan terdapat gudang senjata di sana.
Secara terpisah, pasukan pemerintah Yaman juga melaporkan bahwa Houthi menembakkan beberapa rudal balistik ke kota Marib, yang terletak di kawasan strategis kaya minyak. Aden sendiri menjadi ibu kota sementara bagi pemerintah Yaman yang diakui internasional, setelah Sanaa dikuasai pasukan Houthi.
Konflik Berkepanjangan Sejak 2014
Konflik di Yaman telah berkecamuk sejak akhir 2014 ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara itu. Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui komunitas internasional.
Dalam konteks itulah rangkaian serangan terbaru, termasuk detik-detik rudal Houthi hantam markas militer di Yaman, tewaskan 53 orang & ratusan lainnya terluka, menunjukkan bahwa eskalasi kekerasan masih berlangsung dan menyasar berbagai instalasi militer maupun pemerintahan.
Dengan jumlah korban yang masih berpotensi bertambah, perhatian kini tertuju pada respons pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi. Permintaan otoritas Shabwa akan sistem pertahanan udara, pengawasan, dan peringatan dini menjadi ujian bagi kesiapan pertahanan wilayah selatan Yaman menghadapi serangan berikutnya.
Perkembangan situasi di Shabwa, Aden, dan Marib akan menjadi indikator apakah konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade ini kembali memasuki babak eskalasi yang lebih luas.
