Cakrawala News – 19 September 2026 | Pesan terakhir mekanik truk yang jadi korban KM Virgo, Novia: Perjalanan terakhir bapak Imam menjadi salah satu kisah paling mengharukan di balik tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Imam, pria berusia 66 tahun asal Surabaya, dikenal keluarga sebagai sosok pekerja keras yang tak pernah berhenti mencari nafkah. Di usianya yang tak lagi muda, ia masih bekerja sebagai mekanik sekaligus kernet truk dan kerap bepergian dari Surabaya ke luar pulau demi menghidupi keluarganya.
Kepergian Imam dalam tragedi KM Virgo Transport 8 meninggalkan duka mendalam sekaligus kisah perjuangan panjang bagi keluarga yang ditinggalkan. Kabar kecelakaan kapal itu pertama kali diketahui keluarga dari media sosial. Syamsi, adik Imam, kemudian mendatangi posko terpadu di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk memastikan informasi mengenai identitas para korban.
“Itu saya dapat berita dari HP, medsos iya. Terus habis gitu saya ngecek di (Pelabuhan Tanjung) Perak di posko itu, habis gitu saya cocok-cocokkan,” kata Syamsi, Kamis (17/9/2026).
Meski telah mencocokkan data di posko, keluarga saat itu masih belum sepenuhnya percaya bahwa Imam menjadi salah satu korban. Sebab, sejumlah barang identitas miliknya disebut masih dalam kondisi utuh. Nomor telepon Imam juga masih dapat dihubungi, sehingga menimbulkan harapan di tengah keluarga.
“Saya sebelumnya memang kurang percaya. Masalahnya kan KTP apa itu kan masih utuh gitu loh. Terus ada nomor HP apa itu kok masih bisa dihubungi,” tutur Syamsi.
Kepastian yang Datang dari Foto Jenazah
Untuk memastikan identitas kakaknya, Syamsi kemudian meminta foto jenazah Imam. Ia mengaku harus sedikit memaksa agar permintaannya dipenuhi. Kepastian itu akhirnya datang, dan jenazah Imam tiba di rumah duka pada Rabu (16/9) pagi. Peti jenazah disambut keluarga yang telah menunggu di rumah di Jalan Sememi Jaya Gang 4, Surabaya.
Bagi keluarga, kepergian Imam bukan sekadar kehilangan sosok ayah, melainkan juga kehilangan tulang punggung yang selama ini menopang kehidupan mereka. Di usia 66 tahun, Imam tetap memilih bekerja sebagai mekanik dan kernet truk, pekerjaan yang menuntutnya bepergian jauh dari Surabaya ke luar pulau. Perjalanan terakhir bapak Imam pun menjadi perjalanan yang tak pernah kembali.
Kisah duka juga menyelimuti keluarga Soni Marta, korban lain KM Virgo Transport 8 yang berasal dari Banyuwangi. Hingga Kamis (17/9/2026), keluarga belum mendapat kepastian mengenai keberadaan Soni. Sang istri, Rini Handayani, bersama dua anaknya masih menanti kabar setelah komunikasi dengan Soni terputus sejak kapal yang ditumpanginya dikabarkan tenggelam.
Soni diketahui berangkat menggunakan KM Virgo Transport 8 untuk mengantarkan truk ekspedisi menuju Banjarmasin. Sehari-hari, pria tersebut bekerja sebagai sopir truk dan menjadi salah satu tulang punggung keluarganya. Kini, rumah yang biasanya menjadi tempat Soni kembali setelah bekerja justru dipenuhi penantian.
“Saya masih berharap suami saya selamat dan bisa segera pulang. Kami di sini terus menunggu kabarnya,” kata Rini, Kamis (17/9/2026).
Percakapan Terakhir yang Menyimpan Pesan Keluarga
Komunikasi terakhir Rini dengan Soni terjadi pada Sabtu malam. Saat itu, Soni sempat mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di dalam kapal. Dalam percakapan terakhir tersebut, Soni bahkan masih memikirkan kebutuhan keluarganya, terutama pendidikan anak-anak. Ia meminta Rini menyiapkan biaya sekolah karena salah satu anak mereka akan mengikuti ujian.
“Terakhir komunikasi Sabtu malam. Waktu itu dia bilang sudah di dalam kapal,” ujar Rini.
“Dia sempat bilang soal biaya sekolah anak. Katanya segera disiapkan karena anak akan ujian,” ungkapnya.
Bagi Rini, percakapan tersebut kini menjadi salah satu kenangan terakhir bersama suaminya. Setelah kabar kapal tenggelam, ia tidak lagi dapat menghubungi Soni. Penantian itu masih berlanjut hingga kini, seiring upaya keluarga memastikan keberadaan pria yang selama ini menjadi penopang ekonomi rumah tangga mereka.
Dari dua kisah ini, tergambar bagaimana para pekerja seperti Imam dan Soni menempuh perjalanan jauh demi keluarga. Imam, yang berusia 66 tahun, tetap bekerja sebagai mekanik sekaligus kernet truk dan kerap menyeberang ke luar pulau. Soni, sopir truk asal Banyuwangi, mengantarkan truk ekspedisi menuju Banjarmasin. Keduanya berada di kapal yang sama ketika musibah terjadi.
Pesan terakhir mekanik truk yang jadi korban KM Virgo, Novia: Perjalanan terakhir bapak Imam pun menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjalanan pekerja ada keluarga yang menanti. Bagi keluarga Imam, kepastian telah datang meski harus melalui proses panjang, mulai dari mencocokkan data di posko hingga meminta foto jenazah. Bagi keluarga Soni, penantian masih berlangsung, dengan harapan sang suami masih dalam keadaan selamat dan suatu saat bisa kembali berkumpul bersama keluarga.
Hingga berita ini ditulis, keluarga Imam telah menerima jenazah dan menggelar prosesi di rumah duka. Sementara itu, keluarga Soni masih menunggu kepastian resmi mengenai keberadaan korban. Perkembangan informasi dari posko terpadu di Pelabuhan Tanjung Perak maupun pihak terkait masih menjadi hal yang dinantikan kedua keluarga, terutama bagi mereka yang belum mendapatkan kepastian mengenai nasib anggota keluarganya.
Kisah perjalanan terakhir bapak Imam dan penantian keluarga Soni menjadi cermin bagaimana musibah pelayaran berdampak langsung pada kehidupan keluarga pekerja. Selain duka, tragedi ini menyisakan pertanyaan tentang keselamatan pelayaran serta perlindungan bagi para pekerja yang menggantungkan hidup dari perjalanan antarpulau.












