Polda Banten Pastikan Terpal dan Galon Temuan SAR Bukan Milik Kapal Jurnalis Hilang

Polda Banten Pastikan Terpal dan Galon Temuan SAR Bukan Milik Kapal Jurnalis Hilang
Polda Banten Pastikan Terpal dan Galon Temuan SAR Bukan Milik Kapal Jurnalis Hilang

Cakrawala News – 15 September 2026 | Polda Banten: Temuan tim SAR di Selat Sunda bukan milik jurnalis hilang kontak. Kepastian itu disampaikan setelah Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Banten memeriksa sejumlah barang yang ditemukan Tim SAR Gabungan dalam pencarian KM Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda, serta meminta keterangan tambahan dari pemilik kapal dan dua nakhoda pengganti KM Arupadhatu 1 di Polsek Carita, Minggu (13/9).

Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea menyatakan dua barang temuan terbaru berupa terpal plastik berwarna biru gelap-silver dan botol galon plastik bertuliskan Aqua dipastikan bukan bagian dari KM Arupadhatu 1, kapal yang ditumpangi rombongan wartawan yang hilang kontak bersama tiga awak kapal.

“Terpal yang ditemukan memiliki ukuran sekitar panjang 12 meter dan lebar 3,5 meter serta mengeluarkan bau amis ikan. Sementara KM Arupadhatu 1 memiliki panjang 7,52 meter, lebar 2,01 meter dan kedalaman 0,90 meter. Untuk bagian atap penumpang berukuran sekitar dua meter, kapal menggunakan bahan plastik ORCHID berwarna biru, bukan terpal plastik polyester atau PVC,” ujar Maruli dalam keterangan tertulis, Senin (14/9).

Spesifikasi Terpal dan Galon di Kapal Arupadhatu

Maruli menjelaskan, KM Arupadhatu 1 dan KM Arupadhatu 2 memang memiliki terpal plastik, tetapi digunakan sebagai penutup dua mesin tempel. Terpal tersebut berukuran sekitar 2×2 meter, berwarna biru-oranye bolak-balik, dan bertuliskan “4M A12 ROYAL CROWN TECH BY KOREA + UV”.

Menurut keterangan polisi, terpal itu tidak dibawa KM Arupadhatu 1 saat berlayar pada Senin (7/9), melainkan disimpan di KM Arupadhatu 2. Perbedaan ukuran, warna, bahan, dan fungsi inilah yang menjadi dasar kepolisian menyimpulkan terpal temuan SAR tidak berkaitan dengan kapal tersebut.

Terkait galon, Maruli mengatakan air minum yang biasa tersedia di kapal ketika menginap di laut menggunakan air mineral berkapasitas 15 liter merek Le Minerale. “Untuk botol galon plastik bertuliskan Aqua, berdasarkan keterangan yang diperoleh, air minum yang biasa tersedia di kapal apabila menginap di laut menggunakan air mineral kapasitas 15 liter merek Le Minerale. Sementara terkait apakah pada pelayaran 7 September 2026 kapal membawa botol galon sebagai tempat penyimpanan air minum, belum dapat dipastikan,” terangnya.

Polda Banten juga memeriksa barang-barang lain yang sebelumnya ditemukan Tim SAR, termasuk pelampung dan jeriken. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, perlengkapan keselamatan KM Arupadhatu 1 terdiri dari 10 sampai 12 life jacket, tiga busa jok, satu ring buoy bantuan pemerintah provinsi, serta perlengkapan lainnya.

Sebelumnya, tiga life jacket yang ditemukan di sekitar perairan Selat Sunda juga dipastikan bukan milik kapal Arupadhatu 1. Kepastian tersebut diperoleh setelah polisi melakukan konfirmasi kepada pemilik kapal. “Dipastikan bahwa objek yang ditemukan ini tidak berkaitan dengan teman-teman dari kapal speedboat Arupadhatu 1,” jelas Maruli.

Pencarian Hari Ketujuh Diperluas hingga Samudra Hindia

Tim SAR gabungan memperluas area pencarian delapan warga yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda pada hari ketujuh operasi, Senin (14/9/2026). Basarnas mengerahkan 18 kapal dan satu helikopter untuk menyisir area pencarian yang kini mencapai 6.649 Nautical Mile persegi.

“Pada operasi hari ketujuh, tim SAR mengoptimalkan 18 kapal dan satu helikopter untuk menyisir wilayah pencarian yang diperluas hingga 6.649 Nautical Mile persegi,” kata Kepala Sub-Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banten Rizky Dwianto di Pandeglang, Banten.

Dalam operasi hari ketujuh, tim SAR memberikan perhatian khusus terhadap Sektor X. Wilayah tersebut menjadi prioritas karena terdapat sejumlah temuan selama pencarian pada hari ketiga hingga keenam. Sektor X memiliki luas area pencarian 831 NM persegi dan disisir sejumlah kapal, di antaranya KN SAR Tetuka, RIB 02 Banten, KRI Leuser, RBB Pulau Peucang, KP 2016, KP 2013, KP 1003, KP 1012, KP 1010, KP 1007, dan KP URC-Rhan.

Sementara itu, pencarian di Sektor Z seluas 512 NM persegi dilakukan KN SAR Basudewa. Sektor V seluas 1.182 NM persegi disisir KRI Teluk Gilimanuk. Sektor W dengan luas 1.167 NM persegi melibatkan KRI Lepu, KAL Anyer, dan KN SAR Antasena. Kemudian Sektor U seluas 481 NM persegi dilakukan KP Sanjaya, sedangkan Sektor Y seluas 413 NM persegi dilakukan RIB 02 SAR Lampung. Untuk pencarian dari udara, Basarnas menyiapkan helikopter Dolphin HR-3604 untuk menyisir Sektor H yang memiliki luas 2.063 NM persegi.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyatakan operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal resmi diperpanjang tiga hari ke depan. Fokus penyisiran diperluas secara masif hingga memasuki wilayah perbatasan Samudra Hindia mengikuti prediksi pergeseran arus laut. “Hari ke-6 hari ke-7 sebenarnya kami sudah masuk di samudra Hindia, kami berdasarkan dengan pengamatan pergeseran arus. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan tim dalam menentukan area pencarian berikutnya,” ujar Amrad.

Cuaca menjadi tantangan selama proses pencarian. Pada hari pertama dan kedua, operasi terkendala kondisi Gunung Anak Krakatau yang belum kondusif. Mulai hari ketiga hingga keenam, tim menghadapi kendala kabut. Pada hari kelima, helikopter masih dapat melakukan pencarian dengan jarak pandang sekitar 1,5 kilometer pada ketinggian 500 kaki, namun pada hari keenam helikopter yang telah disiapkan tidak dapat diterbangkan. Metode penyelaman juga belum dapat dilakukan karena titik keberadaan korban maupun kapal cepat yang digunakan belum diketahui secara pasti.

Uji DNA Jenazah di Enggano

Di sisi lain, Polda Banten masih menunggu hasil identifikasi Polda Bengkulu terkait penemuan jenazah di Pulau Enggano, Bengkulu. Jenazah berjenis kelamin laki-laki, diperkirakan berusia sekitar 50 tahun dengan tinggi badan sekitar 165 sentimeter, ditemukan dengan kondisi wajah yang rusak dan telah dievakuasi untuk menjalani pemeriksaan.

Polda Banten telah mengirimkan data antemortem yang diperoleh dari keluarga lima jurnalis dan tiga orang lainnya yang hilang kontak untuk dicocokkan dengan hasil pemeriksaan jenazah. “Hari ini sudah dilaksanakan otopsi. Kita menunggu pencocokan DNA yang sudah diambil dari keluarga teman-teman yang hilang kontak, kita akan melakukan pencocokan,” ujar Maruli.

Polisi juga telah menyampaikan informasi mengenai pakaian yang terakhir dikenakan sebelum rombongan berangkat meliput Gunung Anak Krakatau. “Kami mohon waktu untuk bisa menjelaskan setelah keluar hasil cek DNA dari Polda Bengkulu,” terangnya.

Dengan dipastikannya sejumlah barang temuan bukan milik KM Arupadhatu 1, perhatian kini tertuju pada hasil uji DNA jenazah di Enggano serta perluasan area pencarian yang menyentuh perbatasan Samudra Hindia. Kedua perkembangan itu menjadi penentu apakah operasi SAR selama sepekan lebih menemukan titik terang terkait keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak sejak pelayaran 7 September 2026.

Exit mobile version