Qatar-Pakistan Jadi Mediator, Upayakan AS-Iran Kembali Berunding Akhiri Kebuntuan

Qatar-Pakistan Jadi Mediator, Upayakan AS-Iran Kembali Berunding Akhiri Kebuntuan
Qatar-Pakistan Jadi Mediator, Upayakan AS-Iran Kembali Berunding Akhiri Kebuntuan

Cakrawala News – 25 September 2026 | Jadi mediator, Qatar-Pakistan upayakan AS-Iran kembali berunding akhiri kebuntuan yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Tim mediasi Qatar bersama Pakistan telah membahas sejumlah usulan selama hampir dua pekan untuk memulai kembali pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Upaya ini menjadi salah satu jalur diplomasi paling aktif di tengah situasi keamanan kawasan yang masih bergejolak.

“Kami telah bertukar berbagai gagasan selama hampir dua pekan mengenai dimulainya kembali pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, pada Minggu (20/9), sebagaimana dikutip Anadolu.

Pernyataan itu disampaikan di sela-sela Forum Ekonomi Qatar di New York, Amerika Serikat. Al-Ansari menegaskan bahwa Qatar dan Pakistan berperan sebagai mediator yang menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.

Mediator Bergerak Antar-Ibu Kota

Menurut al-Ansari, tim mediator Qatar bekerja sama dengan Pakistan untuk terus berkomunikasi dengan kedua pihak. Para mediator bergerak dari satu ibu kota ke ibu kota lain guna mencari kemajuan dalam upaya tersebut.

“Kami bekerja melalui tim mediasi dengan Iran dan AS untuk melihat apakah pembicaraan dapat dilanjutkan. Para mediator kami saat ini bergerak di antara berbagai ibu kota dengan harapan dapat mencapai kemajuan dalam jalur ini,” ujar al-Ansari kepada media Qatar.

Ia menambahkan bahwa Qatar berupaya menjembatani kesenjangan dan menemukan waktu yang tepat untuk melangkah maju. Berbagai gagasan telah diajukan dan dipertukarkan sebagai bahan pembicaraan awal.

Qatar juga mengaku telah menerima jaminan dari sejumlah pejabat di pemerintahan Amerika Serikat bahwa Washington ingin mencapai kesepakatan. Menurut al-Ansari, para pejabat AS telah mengisyaratkan keinginan tersebut secara resmi.

“Kami telah mendengar pernyataan resmi dari berbagai pejabat pemerintahan yang telah mengonfirmasi bahwa AS menginginkan sebuah kesepakatan, dan AS menginginkan solusi untuk perang ini,” tuturnya.

Selat Hormuz Jadi Sorotan

Dalam setiap penyelesaian yang diupayakan, Qatar menekankan pentingnya stabilitas kawasan. Al-Ansari menyebut perlunya kesepahaman internasional untuk melindungi jalur-jalur perairan strategis, termasuk Selat Hormuz.

“Buka selat tersebut, hentikan perang. Ini adalah dua tujuan utama dari segala hal yang sedang kami lakukan saat ini,” imbuhnya.

Ia juga memperingatkan bahaya jika jalur perairan dikuasai satu negara dan digunakan sebagai senjata. Menurutnya, hal itu akan menciptakan preseden berbahaya bagi semua pihak.

“Menempatkan jalur-jalur perairan di bawah kedaulatan satu negara saja dan menggunakannya sebagai senjata akan menciptakan preseden berbahaya bagi kita semua,” ucap al-Ansari.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur terpenting dunia bagi pasokan energi dan perdagangan global. Karena itu, kebuntuan perundingan yang menyangkut navigasi di selat tersebut menjadi salah satu pemicu ketegangan antara AS dan Iran.

Latar Belakang Konflik

Perang antara Iran dan Amerika Serikat bermula pada 28 Februari, ketika serangan gabungan AS dan Israel dilancarkan ke Iran. Iran membalas dengan menyerang sejumlah titik di kawasan.

Pada pertengahan Juni, setelah berbulan-bulan saling serang, Iran dan AS sepakat meneken memorandum untuk menghentikan permusuhan. Namun, perang kembali berlanjut tak lama kemudian.

AS dilaporkan melakukan serangan militer terhadap sejumlah lokasi di Iran di tengah kebuntuan perundingan akibat perbedaan mengenai navigasi di Selat Hormuz. Serangan itu terjadi meski kedua pihak telah menandatangani nota kesepahaman.

Iran merespons dengan menyerang apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi. Beberapa serangan tersebut dilaporkan menyebabkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur sipil, yang memicu kecaman dari negara-negara terdampak serta seruan agar serangan dihentikan.

Menurut Teheran, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran kemudian merespons dengan serangan yang menurut mereka menewaskan warga Amerika dan Israel.

Peringatan Keamanan dan Ancaman Iran

Pernyataan Qatar muncul setelah Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan pada Minggu. Dalam peringatan itu disebutkan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah tetap kompleks di tengah ketegangan kawasan, dengan kemungkinan terjadinya eskalasi yang tidak terduga.

Departemen Luar Negeri AS meminta warga negaranya di kawasan tersebut untuk berhati-hati. Warga AS di luar kawasan juga diminta mempertimbangkan kembali perjalanan menuju atau melalui Timur Tengah.

Sejumlah Kedutaan Besar AS di kawasan, termasuk di Uni Emirat Arab, Irak, dan Yordania, mengeluarkan peringatan serupa pada Minggu. Peringatan ini mencerminkan kekhawatiran Washington terhadap potensi memburuknya situasi keamanan.

Di sisi lain, Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran Khatam Al-Anbiya mengeluarkan ancaman keras. Mereka menyatakan akan menghabisi semua pangkalan militer dan fasilitas Amerika Serikat di Timur Tengah jika AS kembali melancarkan serangan ke Iran.

“Jika AS membuat kesalahan lagi terhadap Iran, maka semua pangkalan dan kepentingan negara tersebut di kawasan ini akan menjadi sasaran serangan yang terus-menerus dan menyakitkan tanpa batasan atau keraguan sedikit pun,” kata badan tersebut, sebagaimana disiarkan televisi nasional IRIB.

Khatam Al-Anbiya juga memperingatkan Iran tidak akan menahan diri terhadap negara-negara di Timur Tengah yang memutuskan ikut serta dalam agresi AS. Mereka mengeklaim AS, dengan persetujuan sejumlah negara di Timur Tengah, sepakat menggelar rapat gabungan di sebuah negara Eropa untuk mempersiapkan operasi militer baru terhadap Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menjelaskan pendekatannya terhadap perang tersebut dalam wawancara dengan jaringan televisi Fox News. Ia menyebut pilihannya saat ini adalah menghancurkan Iran, membiarkan perekonomiannya membusuk, atau melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan.

“Pertanyaan saya adalah, jika dan kapan saya menghancurkan seluruh negara itu? Mereka sebaiknya berperilaku baik,” kata Trump. Ia juga menyatakan hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Tekanan Ekonomi dan Harapan Diplomasi

Di tengah kebuntuan perundingan, AS memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Langkah itu ditempuh dalam upaya mengakhiri konflik dengan menciptakan kesulitan ekonomi baru bagi Iran.

Hingga kini, masih belum ada tanda-tanda konflik berakhir. Permusuhan dan saling serang terus terjadi secara sporadis, sementara jalur diplomasi masih berjalan lambat.

Upaya Qatar dan Pakistan menjadi salah satu harapan untuk membuka kembali ruang perundingan. Namun, perbedaan mendasar mengenai navigasi di Selat Hormuz dan sikap keras kedua pihak masih menjadi hambatan utama.

Ke depan, perkembangan yang perlu dicermati adalah apakah gagasan yang dipertukarkan melalui tim mediator Qatar-Pakistan dapat menghasilkan kesepakatan untuk memulai kembali pembicaraan. Selain itu, situasi keamanan di kawasan dan peringatan perjalanan sejumlah kedutaan besar AS akan menjadi indikator seberapa besar risiko eskalasi dalam waktu dekat.

Selama jalur diplomasi belum membuahkan hasil konkret, ketegangan antara AS dan Iran diperkirakan tetap tinggi. Upaya menjembatani kesenjangan oleh Qatar dan Pakistan pun masih menjadi sorotan utama dalam upaya mengakhiri kebuntuan yang berkepanjangan.

Exit mobile version