Cakrawala News – 08 Oktober 2026 | Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Takut diserang Amerika, Iran kembali ancam negara tetangga dan seluruh aset militer Washington di kawasan, termasuk pangkalan dan kapal perang AS. Ancaman itu disampaikan oleh komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Fadavi, yang kini menjabat sebagai kepala kelompok penasihat bagi panglima tertinggi IRGC.
Pernyataan tersebut disampaikan Fadavi pada Minggu malam, 4 Oktober, saat tampil dalam sebuah program televisi pemerintah Iran. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam jika Washington nekat melancarkan invasi darat ke wilayah Iran.
“Jika pihak Amerika melancarkan serangan darat, maka kami akan menargetkan setiap lokasi yang terkait dengan Amerika, pangkalan Amerika, dan setiap kapal yang terkait dengan Amerika,” kata Fadavi dalam acara tersebut.
AS Dianggap Hanya Paham Bahasa Kekuatan Militer
Dalam kesempatan itu, Fadavi berpendapat bahwa Amerika Serikat hanya memahami bahasa kekuatan militer. Menurutnya, pihak Amerika telah merasakan dampak dari rudal yang menghantam kapal perang dan pangkalan mereka.
Ia menyebut bahwa Washington “memahami (dampak) rudal yang menghantam kapal perang mereka” dan “rudal yang menghantam pangkalan mereka.” Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Iran siap merespons dengan kekuatan militer jika eskalasi berlanjut.
Fadavi juga menyatakan bahwa tingkat produksi peralatan militer Iran saat ini melampaui tingkat penggunaannya. Ia mengeklaim kemampuan militer negaranya telah meningkat secara signifikan dibandingkan dengan dua perang yang pernah dijalani sebelumnya. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen, namun disampaikan dalam forum resmi pemerintah Iran.
Selat Hormuz dan Ancaman bagi Kapal AS
Beralih ke Selat Hormuz, Fadavi menekankan pentingnya aturan yang mengatur jalur perairan strategis tersebut. Menurutnya, Iran dan Oman perlu menyusun serta menegakkan aturan bersama untuk mengelola Selat Hormuz.
Ia menambahkan bahwa aturan semacam itu telah disiapkan dan sedang diterapkan. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi lintasan utama kapal tanker minyak dari kawasan Teluk.
Fadavi juga memperingatkan bahwa kapal-kapal Amerika akan rentan terhadap serangan Iran jika Washington mengerahkan kapal-kapal tersebut ke kawasan itu. Menurutnya, pihak Amerika hanya bisa menciptakan ketegangan melalui udara, dan peningkatan ketegangan justru akan merugikan pihak Amerika sendiri.
Ancaman ini muncul di tengah situasi keamanan kawasan yang masih rawan. Takut diserang Amerika, Iran kembali ancam negara tetangga dan aset militer AS, menandakan bahwa Teheran ingin menunjukkan kesiapan menghadapi segala kemungkinan eskalasi.
Konteks dan Dampak bagi Kawasan
Pernyataan Fadavi menjadi perhatian karena posisinya yang strategis di IRGC. Sebagai kepala kelompok penasihat bagi panglima tertinggi, ucapannya mencerminkan pandangan arus utama di lingkaran keamanan Iran.
Selat Hormuz sendiri memiliki arti penting bagi perekonomian global. Setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan stabilitas pasokan energi. Karena itu, peringatan Iran terhadap kapal AS di kawasan itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Oman terkait pernyataan Fadavi. Pihak Amerika belum memberikan keterangan apakah akan merespons ancaman tersebut atau tidak.
Yang perlu dicermati ke depan adalah apakah ketegangan ini akan berlanjut ke arah konfrontasi terbuka atau justru mereda melalui jalur diplomatik. Takut diserang Amerika, Iran kembali ancam negara tetangga dan pangkalan militer AS, sehingga dinamika di kawasan Teluk dan Selat Hormuz akan tetap menjadi sorotan utama.
Semua pihak berharap eskalasi tidak meningkat, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga oleh negara-negara tetangga serta pasar energi global.
