Yusril Tak Sreg dengan Judul Buku ‘Islam ala Prabowo’, Sebut Lebih Baik ‘Prabowo dan Islam’

Yusril Tak Sreg dengan Judul Buku 'Islam ala Prabowo', Sebut Lebih Baik 'Prabowo dan Islam'
Yusril Tak Sreg dengan Judul Buku 'Islam ala Prabowo', Sebut Lebih Baik 'Prabowo dan Islam'

Cakrawala News – 09 September 2026 | Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra mengaku tidak sreg dengan judul buku ‘Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam’. Menurutnya, judul tersebut dapat memunculkan persepsi yang lebih tajam di masyarakat dibandingkan jika menggunakan judul yang lebih deskriptif.

Yusril menilai persoalan terletak pada kebiasaan sebagian pembaca yang hanya mendapatkan kesan awal dari judul tanpa membaca isi buku secara menyeluruh. Padahal, untuk memahami maksud sebuah buku, pembaca perlu melihat isi dan konteks pembahasannya.

“Kalau judulnya misalnya ‘Prabowo dan Islam’, menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam,” ujar Yusril dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Yusril setelah membaca buku secara utuh. Ia menegaskan tidak pernah menjadi penulis buku tersebut. Kontribusinya hanya sebagai narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun.

“Saya tidak menulis itu,” tegas Yusril.

Yusril menjelaskan, keterlibatannya hanya sebatas memberikan keterangan sebagai narasumber. Ia tidak pernah ikut menentukan arah pembahasan, judul, konsep, hingga pembiayaan penerbitan buku.

“Keterlibatan saya hanya terbatas sebagai salah satu narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun, tetapi tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan mengenai judul, maupun dalam proses penggagasan dan pembiayaan penerbitan buku tersebut,” jelasnya.

Ia mengaku tidak mengetahui secara detail siapa saja yang berada di balik tim penyusun buku tersebut. Yusril bahkan lupa kapan wawancara dilakukan dan siapa pewawancaranya. Ia hanya mengingat wawancara dilakukan sebelum dirinya masuk kabinet Presiden Prabowo Subianto.

“Saya sudah tidak ingat siapa yang mewawancarai saya. Saya juga tidak tahu apakah dia bagian dari tim penyusun atau tim yang menyiapkan bahan untuk buku itu. Saya tidak mengenalnya secara pribadi,” kata Yusril.

Meski demikian, Yusril memastikan siap mempertanggungjawabkan secara akademik isi wawancaranya yang dimuat dalam buku tersebut. Setelah membaca keseluruhan buku, ia tidak menemukan persoalan mendasar dalam substansi yang dikaitkan dengan dirinya.

“Setelah membaca buku tersebut secara utuh, saya tidak melihat adanya persoalan mendasar dalam substansi yang disampaikan, khususnya pada bagian yang bersumber dari wawancara dengan saya,” katanya.

Buku ‘Islam ala Prabowo’ menuai kontroversi sejak diluncurkan pada 26 Agustus 2025. Buku setebal lebih dari 330 halaman itu berisi naskah-naskah dari sejumlah tokoh tentang kedekatan Prabowo dengan ajaran Islam. Yusril menjadi salah satu penyumbang naskah dengan subjudul ‘Peduli Kepada Rakyat dan Keadilan’.

Sejumlah pihak yang namanya tercantum dalam buku juga membantah terlibat sebagai penulis. Salah satunya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu), KH Asep Saifuddin Chalim, yang mengaku hanya diminta menulis oleh panitia. Ia bahkan sejak awal menyarankan agar judul buku diubah karena dinilai terlalu sensitif.

“Ketika panitia buku itu minta tulisan kepada saya, saya sudah mengingatkan sejak awal agar judulnya diubah karena sangat sensitif,” ujar Kiai Asep.

Kiai Asep menegaskan motifnya menulis adalah untuk berdakwah, bukan membandingkan Prabowo dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia berharap presiden bisa meniru ketegasan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memberantas korupsi dan nepotisme.

Kontroversi judul buku ini menjadi perhatian publik, terutama karena menggunakan nama presiden dan dikaitkan dengan ajaran Islam. Yusril sendiri menilai judul yang lebih deskriptif akan mengurangi potensi kesalahpahaman di masyarakat.

Ke depan, publik menantikan klarifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan buku tersebut, termasuk siapa sebenarnya tim penyusun dan mengapa judul yang dianggap sensitif itu tetap dipilih.

Exit mobile version