Cakrawala News – 17 Oktober 2026 | Arab Saudi disebut tolak tawaran Israel bantu perangi Houthi, bahkan setelah Amerika Serikat ikut turun tangan melobi Riyadh. Penolakan itu disampaikan langsung oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), yang disebut tidak tertarik menerima bantuan militer dari Tel Aviv di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap wilayah kerajaan.
Laporan tersebut pertama kali diungkap surat kabar Israel, Haaretz, pada Senin (12/10) waktu setempat dengan mengutip sumber diplomatik anonim. Menurut laporan itu, Israel berupaya memperoleh persetujuan Arab Saudi untuk bergabung dalam operasi militer melawan Houthi melalui mediasi Amerika Serikat.
Namun, MBS disebut menolak dorongan tersebut. Salah satu alasan utamanya adalah kekhawatiran bahwa kerja sama militer dengan Israel dapat memicu reaksi negatif dari masyarakat Arab Saudi.
Alasan di Balik Penolakan Riyadh
Seorang sumber diplomatik yang enggan disebutkan namanya mengatakan, MBS tidak berminat menerima bantuan militer Israel karena khawatir hal itu akan menimbulkan penolakan publik di dalam negeri. Isu Palestina masih menjadi sentimen kuat di kalangan masyarakat Arab Saudi, sehingga kerja sama militer dengan Israel berisiko menimbulkan konsekuensi politik bagi Riyadh.
Selain faktor domestik, Arab Saudi juga memperhitungkan dampak diplomatik. Riyadh hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel dan tetap berpegang pada pendirian bahwa normalisasi hubungan bergantung pada penyelesaian masalah Palestina, termasuk terwujudnya negara Palestina.
Penolakan ini memperlihatkan bahwa tekanan keamanan akibat serangan Houthi belum cukup mengubah sikap Arab Saudi terhadap Israel.
Kepentingan Israel di Balik Tawaran
Dari sisi Israel, tawaran bantuan militer itu bukan sekadar soal operasi melawan Houthi. Seorang sumber lain yang mengetahui persoalan tersebut menyebut Israel berharap kerja sama militer dengan Arab Saudi dapat memperkuat hubungan bilateral kedua negara sekaligus membuka jalan bagi kesepakatan normalisasi hubungan pada masa mendatang.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan tengah mencari front baru seiring meredanya aksi pengeboman di Iran. Pendekatan kepada Riyadh melalui mediasi AS dinilai sebagai salah satu cara memperluas kerja sama regional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berulang kali mendorong Arab Saudi untuk menandatangani Perjanjian Abraham dalam beberapa bulan terakhir. Namun, upaya tersebut terbentur sikap Riyadh yang tetap mensyaratkan kemerdekaan Palestina sebelum normalisasi hubungan dengan Israel dapat terwujud.
Eskalasi Serangan Houthi terhadap Arab Saudi
Laporan penolakan ini muncul di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi. Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan lain terhadap bandara yang sama pada Minggu menewaskan seorang warga Pakistan dan melukai 11 orang lainnya, menurut Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi.
Serangan Houthi tidak hanya menyasar bandara sipil, tetapi juga fasilitas minyak dan kapal tanker. Eskalasi ini mulai terjadi pada Juli, setelah situasi relatif tenang menyusul berlakunya gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada April 2022.
Yaman telah dilanda perang sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Pada Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Konflik kembali berkobar sejak Juli lalu. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung internasional dan Houthi yang didukung Iran. Pemerintah Yaman kemudian meluncurkan operasi militer untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi, dan Arab Saudi memberikan dukungan melalui serangan udara terhadap sejumlah sasaran kelompok itu di Yaman.
Sebagai balasan, Houthi menargetkan wilayah Saudi dalam rentetan serangan yang melibatkan rudal maupun drone. Serangan-serangan itu memicu kekhawatiran sejumlah negara terhadap keselamatan warganya di Arab Saudi.
Belum Ada Tanggapan Resmi
Hingga kini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut. Otoritas Riyadh juga belum mengonfirmasi maupun membantah isi laporan Haaretz yang mengutip sumber diplomatik anonim itu.
Meski demikian, Arab Saudi disebut tolak tawaran Israel bantu perangi Houthi tetap menjadi sorotan karena menunjukkan batas kerja sama keamanan antara kedua negara. Riyadh tampaknya memilih menanggung risiko serangan Houthi ketimbang menerima bantuan militer dari negara yang belum memiliki hubungan diplomatik dengannya.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah eskalasi serangan Houthi akan mengubah kalkulasi politik Riyadh, atau apakah Arab Saudi tetap pada pendiriannya bahwa normalisasi dengan Israel hanya mungkin terjadi setelah persoalan Palestina diselesaikan. Sampai saat itu, posisi Arab Saudi disebut tolak tawaran Israel bantu perangi Houthi menjadi sinyal kuat bahwa Riyadh tidak ingin mengorbankan kepentingan politiknya demi keuntungan keamanan jangka pendek.
