BRI Lanjutkan Buyback Saham Rp1 Triliun, Fundamental Bisnis Jadi Penopang

BRI Lanjutkan Buyback Saham Rp1 Triliun, Fundamental Bisnis Jadi Penopang
BRI Lanjutkan Buyback Saham Rp1 Triliun, Fundamental Bisnis Jadi Penopang

Cakrawala News – 27 Oktober 2026 | PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI kembali melanjutkan aksi pembelian kembali saham (buyback) dengan mengalokasikan dana sebesar-besarnya Rp1 triliun. Langkah ini menjadi sinyal keyakinan perseroan terhadap fundamental bisnisnya di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi. Buyback tahap II tersebut diumumkan melalui keterbukaan informasi pada 22 Oktober 2026 dan dijadwalkan berlangsung pada periode 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.

Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan bahwa buyback secara bertahap merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Menurutnya, langkah tersebut tetap memperhatikan kondisi keuangan perusahaan serta ketentuan yang berlaku.

“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny.

Kronologi Aksi Buyback BRI

Konsistensi BRI dalam melakukan buyback tercermin dari sejumlah aksi yang telah dijalankan dalam beberapa periode terakhir. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 24 Maret 2025, pemegang saham menyetujui pelaksanaan buyback dengan nilai sebesar-besarnya Rp3 triliun. Pembelian kembali saham itu dapat dilakukan melalui bursa efek maupun di luar bursa efek, baik secara bertahap maupun sekaligus sesuai ketentuan yang berlaku.

Memasuki 2026, BRI melanjutkan langkah tersebut di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Berdasarkan keterbukaan informasi pada 12 Juni 2026, perseroan mengalokasikan dana sebesar-besarnya Rp500 miliar untuk buyback tahap I yang berlangsung pada 12 Juni hingga 11 September 2026. Selanjutnya, buyback tahap II dengan nilai sebesar-besarnya Rp1 triliun diumumkan pada 22 Oktober 2026.

Dhanny menambahkan, keputusan buyback turut mempertimbangkan dinamika pasar global. Faktor-faktor yang diperhatikan mencakup ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, serta arus modal yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan Indonesia.

Kinerja Keuangan dan Permodalan yang Kuat

Dari sisi kinerja keuangan, hingga akhir triwulan II 2026 BRI membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun. Total aset tercatat tumbuh 11,7% secara tahunan menjadi Rp2.352 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7% menjadi Rp1.581 triliun, sementara penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.

Kinerja tersebut juga didukung oleh posisi permodalan dan likuiditas yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 21,5%, sementara Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level 90,8%. Menurut perseroan, posisi ini memberikan ruang yang memadai untuk menjalankan fungsi intermediasi sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan.

“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” kata Dhanny.

Sentimen Buyback di Tengah Tekanan Jual Investor Asing

Aksi buyback emiten perbankan, termasuk BBRI, diharapkan dapat menopang harga saham di tengah tekanan jual investor asing. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi pasar dan fundamental masing-masing bank. Hal ini terlihat pada perdagangan sesi I Selasa, 27 Oktober 2026, ketika saham bank-bank besar milik negara atau Himbara kompak melemah.

Pada sesi tersebut, saham BBRI melemah 0,69% ke Rp2.890. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkontraksi 0,86% ke Rp3.440 dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun paling dalam setelah anjlok 1,53% ke Rp3.850 per saham. Sebaliknya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,40% ke Rp4.960 menjelang paparan kinerja keuangan.

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp578,30 miliar pada sesi I hari itu. BMRI menjadi saham yang paling banyak dijual asing senilai Rp153,43 miliar, disusul BRIS sebesar Rp71,72 miliar, BBCA senilai Rp65,40 miliar, BBRI sebesar Rp32 miliar, dan BBNI sebesar Rp28,21 miliar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai buyback dapat membantu menjaga kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar saham. “Buyback dapat membantu menopang harga saham melalui peningkatan permintaan, terutama ketika perusahaan membeli sahamnya di pasar reguler,” ujar Nafan.

Meski demikian, ia menegaskan dampak buyback terhadap harga saham tidak serta-merta bersifat permanen. Efektivitasnya bergantung pada besaran dana yang digunakan, realisasi pembelian saham, serta kondisi pasar secara keseluruhan. Nafan juga menyarankan investor tidak hanya menjadikan aksi buyback sebagai dasar keputusan investasi. Valuasi saham, prospek laba, serta kemampuan bank menjaga kinerja di tengah kondisi pasar yang bergejolak perlu menjadi pertimbangan.

Dari sisi industri, sejumlah bank lain juga menjalankan strategi serupa. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berencana melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp500 miliar pada 27 Oktober 2026 hingga 26 Januari 2027. Sementara itu, BNI telah menyelesaikan periode buyback pada 26 Oktober 2026 dengan total 22.950.000 saham dibeli kembali, dan BCA menyelesaikan periode buyback pada 23 Oktober 2026.

Bagi investor, langkah buyback BBRI senilai Rp1 triliun menjadi indikasi komitmen perseroan dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham. Namun, realisasi pembelian, kondisi pasar global, serta kualitas kinerja keuangan ke depan tetap menjadi faktor yang perlu dicermati untuk menilai dampaknya terhadap pergerakan saham perseroan.

Exit mobile version