De Zerbi Nirmenang di Premier League, Malah Mengaku Pelatih Terbaik Dunia

De Zerbi Nirmenang di Premier League, Malah Mengaku Pelatih Terbaik Dunia
De Zerbi Nirmenang di Premier League, Malah Mengaku Pelatih Terbaik Dunia

Cakrawala News – 19 September 2026 | Roberto De Zerbi nirmenang di Premier League, malah mengaku pelatih terbaik dunia. Pelatih berkebangsaan Italia itu belum sekalipun membawa Tottenham Hotspur meraih kemenangan di ajang Liga Primer musim ini, tetapi justru melontarkan pernyataan mengejutkan bahwa dirinya layak disebut sebagai pelatih terbaik dunia. Pernyataan tersebut muncul usai Spurs hanya mampu bermain imbang 0-0 kontra Everton di Tottenham Hotspur Stadium, London, pada 13 September 2026.

Hasil seri itu memperpanjang catatan buruk Tottenham di awal musim. Dari empat matchweek pembuka Premier League, Spurs hanya mengumpulkan dua poin. Sisanya berakhir dengan kekalahan. Satu-satunya kemenangan yang diraih De Zerbi terjadi di ajang Piala Liga, ketika Tottenham menaklukkan Charlton Athletic dengan skor 5-1 pada 26 Agustus lalu.

Meski demikian, mantan pelatih Olympique de Marseille, Shakhtar Donetsk, dan Brighton & Hove Albion itu tetap percaya diri. Menurut laporan Football London, De Zerbi menyatakan bahwa di Italia dirinya akan dianggap sebagai pelatih terbaik dunia karena berhasil mencatatkan dua clean sheet dalam dua pertandingan terakhir.

“Di Italia, aku akan menjadi pelatih terbaik dunia. Sebab, aku berhasil mencatatkan dua clean sheet dalam dua pertandingan terakhir kami,” kata De Zerbi seperti dilansir dari Football London.

Pernyataan itu kontras dengan realitas di lapangan. Tottenham menjadi salah satu dari lima tim di Liga Primer yang belum meraih kemenangan. Lebih buruk lagi, Spurs termasuk satu dari dua tim yang belum mencetak gol, bersama Coventry City yang berada di dasar klasemen.

Seret Gol dan Rekor Minor di Empat Laga Awal

Masalah utama Tottenham musim ini terletak pada ketumpulan lini serang. Spurs gagal mencetak gol dalam empat pertandingan pembuka melawan Everton, Nottingham Forest, Brentford, dan Newcastle United. Dari rangkaian tersebut, mereka hanya mengumpulkan dua poin.

Catatan ini menempatkan Tottenham sebagai tim Liga Inggris kedua yang tak mampu mencetak gol dalam empat laga pembuka musim, setelah Crystal Palace pada musim 2017-18. Padahal, ekspektasi klub dan penggemar tetap tinggi. Spurs didorong untuk bersaing di papan atas, melangkah jauh di kompetisi piala, memperebutkan trofi, dan menantang di pentas Eropa.

Tekanan terhadap De Zerbi pun semakin besar. Mantan bek Spurs, Alan Hutton, mewanti-wanti bahwa kursi pelatih bisa goyah jika performa tidak segera membaik. Menurut Hutton, kerasnya iklim kompetisi di Inggris membuat pelatih hanya diberi waktu terbatas untuk membenahi tim.

“Manajer di Liga Primer terkadang hanya diberi waktu sekitar 10 pertandingan untuk membenahi banyak hal, dan jika tidak berhasil, maka Anda akan pergi,” ujar Alan Hutton.

Kekalahan dari Liverpool dan Investasi Besar yang Belum Berbuah

Tren negatif Tottenham berlanjut saat tersingkir dari ajang EFL Cup di Stadion Anfield, markas Liverpool, pada 16 September 2026. Spurs kalah 3-1 dalam laga yang sempat memberi harapan lewat tandukan Conor Gallagher.

Liverpool membuka keunggulan melalui tembakan terukur Alexis Mac Allister dari luar kotak penalti pada babak pertama. Cody Gakpo menggandakan keunggulan dengan sepakan spektakuler di babak kedua. Gallagher sempat memperkecil kedudukan, namun Dominik Szoboszlai mengunci kemenangan 3-1 bagi tuan rumah lewat gol indahnya di menit akhir.

Hasil minor di Anfield memastikan De Zerbi belum mencatatkan satu pun kemenangan musim ini melawan tim-tim kasta teratas Premier League. Satu-satunya hasil positif klub hanyalah kemenangan 5-1 atas tim Championship, Charlton Athletic, pada putaran kedua ajang tersebut.

Di liga, Spurs menelan kekalahan menyakitkan dari Brentford dan Newcastle United, serta hanya mampu bermain imbang tanpa gol saat menghadapi Nottingham Forest dan Everton. Padahal, De Zerbi didatangkan pada akhir musim lalu dengan misi utama menyelamatkan klub dari ancaman degradasi, sebuah target yang berhasil dipenuhinya dengan sangat ketat lewat kemenangan tipis 1-0 pada laga pamungkas musim.

Sejumlah pihak menyoroti besarnya investasi yang telah dikeluarkan klub. Tottenham disebut telah menggelontorkan dana sekitar Rp9,5 triliun, namun belum membuahkan hasil yang sepadan di kompetisi domestik. Kritik pun mengarah pada efektivitas belanja pemain dan strategi yang dijalankan De Zerbi.

Aston Villa Menanti dan Masa Depan De Zerbi

Menjelang laga Liga Primer melawan Aston Villa, Tottenham datang dengan tren yang mengkhawatirkan. Performa seret gol menjadi sorotan utama. Laga tersebut bisa menjadi momen penentu bagi De Zerbi untuk membuktikan bahwa pernyataannya bukan sekadar retorika.

Meskipun Tottenham finis di posisi ke-17 selama dua musim berturut-turut, ekspektasi klub dan penggemar tetap tinggi. Spurs didorong untuk bersaing di papan atas, melangkah jauh di kompetisi piala, memperebutkan trofi, dan menantang di pentas Eropa.

Pernyataan Roberto De Zerbi nirmenang di Premier League, malah mengaku pelatih terbaik dunia menjadi sorotan tersendiri di tengah tekanan yang meningkat. Sebagian pengamat menilai komentar itu sebagai bentuk kepercayaan diri, sementara sebagian lain melihatnya sebagai sinyal bahwa pelatih asal Italia tersebut belum membaca realitas dengan utuh.

Yang jelas, waktu terus berjalan bagi De Zerbi. Jika Tottenham kembali gagal meraih kemenangan melawan Aston Villa, tekanan publik dan manajemen diprediksi akan semakin sulit dibendung. Peringatan Hutton tentang sekitar 10 laga bisa menjadi pengingat bahwa kesabaran di Liga Primer sangat terbatas.

Bagi Tottenham, pertanyaan besarnya bukan hanya soal siapa yang akan mencetak gol pertama, tetapi juga seberapa lama proyek De Zerbi akan terus berjalan tanpa hasil nyata. Laga-laga berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya bagi pelatih yang mengklaim dirinya layak disebut terbaik dunia itu.

Exit mobile version