Cakrawala News – 28 September 2026 | Iran dukung narkoteroris, Kolombia pilih putus hubungan diplomatik menjadi keputusan besar yang resmi diumumkan Bogota pada Kamis, 24 September 2026. Kementerian Luar Negeri Kolombia menyatakan pemutusan hubungan diplomatik dengan Teheran berlaku efektif sejak 19 September dan didasarkan pada alasan keamanan nasional serta hemisferik. Langkah ini menandai pergeseran tajam politik luar negeri Kolombia di bawah kepemimpinan Presiden baru, Abelardo de la Espriella.
Dalam pernyataan resminya, Kemlu Kolombia menyebut keputusan tersebut bertumpu pada sejumlah prioritas kebijakan luar negeri pemerintah, terutama pemberantasan kejahatan transnasional dan perlindungan keamanan nasional. Bogota juga mempertimbangkan dugaan keterkaitan Iran dengan kelompok teroris internasional dan jaringan narkoteroris, dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang telah dikonfirmasi, serta serangan terverifikasi terhadap negara-negara yang tidak terlibat konflik di Timur Tengah.
Selain itu, Kolombia menyoroti blokade Selat Hormuz yang dinilai berdampak besar bagi pasokan minyak dunia. Pemerintah Kolombia turut menuding Teheran menghalangi upaya Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memverifikasi cakupan program nuklir Iran. “Fakta-fakta tersebut telah mengikis kepercayaan Kolombia terhadap Pemerintah Republik Islam Iran,” demikian pernyataan Kemlu Kolombia.
Iran Kecam Keputusan Sepihak Bogota
Teheran merespons keras keputusan tersebut. Pada Jumat, 25 September 2026, Iran mengecam Kolombia yang memutus hubungan diplomatik secara sepihak. Menurut pemerintah Iran, keputusan Bogota tidak dapat dijustifikasi dan lebih dipengaruhi oleh Amerika Serikat serta Israel.
“Ini bukti bahwa tidak ada tuduhan yang disuarakan pemerintah Kolombia itu dapat menjustifikasi validitasnya. Keputusan ini dilakukan karena mereka berada di bawah pengaruh rezim Zionis dan AS,” kata pihak Iran, dikutip dari EFE. Teheran juga menilai tindakan Bogota bertentangan dengan kehendak warganya dan menegaskan bahwa Iran maupun Kolombia seharusnya mengikuti prinsip saling menghormati.
Pemerintah Iran turut menyebut Kolombia memiliki hubungan dengan teroris narkoba. Tuduhan itu muncul sebagai bantahan atas alasan yang dilayangkan Bogota. Hingga kini, kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda akan menempuh jalur mediasi untuk meredakan ketegangan.
Konflik Bukan Hal Baru dalam Hubungan Bilateral
Hubungan diplomatik antara Kolombia dan Iran sebenarnya telah terjalin cukup lama, yakni sejak 28 April 1975. Meski sempat terusik oleh kurangnya perwakilan, kedua negara tetap melanjutkan hubungan diplomatik dan menyetujui kerja sama di bidang kebudayaan dan konsuler. Iran mempertahankan Kantor Kedutaan Besar di Bogota, sedangkan Kolombia mewakili kepentingannya lewat Kantor Kedubes di Turki yang diberikan akreditasi untuk Iran.
Hubungan kedua negara sempat membaik pada masa pemerintahan eks Presiden Gustavo Petro. Namun setelah dipimpin sosok sayap kanan, De la Espriella, Kolombia mengubah pandangan dan mendekat ke Amerika Serikat serta Israel. Bahkan, Kolombia berencana membuka Kantor Kedubes untuk Israel di Yerusalem. Sebelum dilantik, De la Espriella juga sempat mengungkapkan rencananya untuk memutus hubungan dengan Kuba dan Nikaragua, serta menutup sejumlah kantor kedutaan besar mereka di luar negeri.
Layanan Konsuler Tetap Berjalan
Meski memutus hubungan diplomatik, Pemerintah Kolombia menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak mencakup pemutusan hubungan konsuler. Kemlu Kolombia menyatakan layanan konsuler tetap berjalan sesuai ketentuan Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik dan Konvensi Wina tentang Hubungan Konsuler.
Dengan demikian, warga negara kedua pihak yang membutuhkan layanan konsuler masih dapat mengaksesnya sesuai aturan yang berlaku. Pemisahan antara hubungan diplomatik dan konsuler ini menjadi penanda bahwa Bogota berupaya menjaga kepentingan praktis warganya di tengah ketegangan politik yang meningkat.
Dampak dan Hal yang Perlu Dicermati
Keputusan Iran dukung narkoteroris, Kolombia pilih putus hubungan diplomatik berpotensi memengaruhi peta aliansi di kawasan. Kolombia kini semakin mengarahkan politik luar negerinya untuk menyelaraskan diri dengan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus menjauh dari poros yang selama ini menjaga hubungan dengan Teheran.
Bagi Iran, langkah Bogota menjadi pukulan diplomatik di belahan Amerika Latin, kawasan yang selama ini menjadi salah satu basis dukungan politiknya. Sebaliknya, bagi Kolombia, keputusan ini menjadi sinyal tegas bahwa isu keamanan transnasional, termasuk narkoterorisme dan proliferasi nuklir, ditempatkan sebagai prioritas utama kebijakan luar negeri.
Yang perlu dicermati selanjutnya adalah bagaimana Iran menindaklanjuti kecamannya, apakah melalui langkah diplomatik resiprokal atau pengurangan kerja sama konsuler dan kebudayaan. Perkembangan hubungan Kolombia dengan Israel, termasuk rencana pembukaan kantor kedutaan di Yerusalem, juga akan menjadi indikator arah baru politik luar negeri Bogota. Publik perlu menantikan pernyataan resmi lanjutan dari kedua pemerintah untuk melihat sejauh mana pemutusan ini berdampak pada stabilitas kawasan dan kepentingan warga negara di kedua negara.
