Low Tuck Kwong Sepakat Lepas 30 Persen Saham Bayan Resources ke Haji Isam

Low Tuck Kwong Sepakat Lepas 30 Persen Saham Bayan Resources ke Haji Isam
Low Tuck Kwong Sepakat Lepas 30 Persen Saham Bayan Resources ke Haji Isam

Cakrawala News – 18 September 2026 | Miliarder batu bara Low Tuck Kwong bersama anaknya, Elaine Low, resmi menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat untuk mengalihkan 10.000.000.500 saham biasa PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kepada PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. Kesepakatan yang diteken pada 16 September 2026 itu dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (17/9/2026) dan berpotensi menjadi salah satu akuisisi terbesar di sektor batu bara tahun ini.

Jumlah saham yang dialihkan tersebut setara dengan 30 persen dari total saham beredar BYAN sebanyak 33.333.335.000 lembar. Dengan demikian, jika seluruh persyaratan terpenuhi, Jhonlin Baratama akan menguasai 30 persen kepemilikan Bayan Resources.

Direktur BYAN Jenny Quantero menyatakan penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan yang telah disepakati para pihak. “Penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan beberapa kondisi-kondisi pendahuluan,” ujar Jenny dalam keterbukaan informasi di BEI, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Manajemen Bayan belum mengungkapkan secara rinci syarat apa saja yang harus dipenuhi Jhonlin Baratama untuk merampungkan akuisisi tersebut. Perseroan juga tidak menyebutkan nilai transaksi maupun harga jual saham dalam keterbukaan informasi itu.

Meski demikian, Jenny memastikan aksi korporasi ini tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.

Komposisi Kepemilikan Saham Bayan

Merujuk data Shareholders Information per 31 Maret 2026, Low Tuck Kwong selaku pemegang saham pengendali menguasai 13.406.921.870 saham atau setara 40,22 persen. Sementara Elaine Low memegang 7.333.833.700 saham atau sekitar 22,00 persen.

PT Sumber Suryadaya Prima tercatat memiliki 3.333.380.000 saham atau 10,00 persen, sedangkan sisanya sebanyak 9.259.199.430 saham atau 27,78 persen berada di tangan publik dan masyarakat. Artinya, sebagian besar saham yang dialihkan ke Haji Isam berasal dari porsi kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Dalam keterbukaan informasi sebelumnya, Low Tuck Kwong disebut memiliki sekitar 13,42 miliar lembar saham atau 40,25 persen kepemilikan atas BYAN. Perbedaan angka tipis antara kedua data tersebut mencerminkan perbedaan periode pencatatan yang digunakan perseroan.

Jhonlin Group dan Rumor Akuisisi

Jhonlin Baratama merupakan bagian dari Jhonlin Group milik Haji Isam yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan nikel serta penyewaan peralatan tambang. Perusahaan itu beroperasi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Langkah ini sekaligus menjawab rumor yang telah menyebar di pasar sejak Agustus 2026. Saat itu, muncul spekulasi bahwa Haji Isam tengah memposisikan diri untuk menyerap blok saham signifikan milik keluarga Low. Minat pasar semakin menguat setelah kedua pengusaha tersebut terlihat meninjau aset tambang terbuka utama BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai transaksi ini merupakan langkah strategis yang memperluas eksposur bisnis Haji Isam dari sektor agribisnis dan CPO ke sektor batu bara. Namun ia menekankan dampaknya terhadap kinerja perusahaan terbuka Haji Isam di BEI, seperti PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), tidak bisa langsung dihitung sebagai kenaikan pendapatan atau laba.

“Karena saham BYAN dibeli melalui Jhonlin Baratama dan tidak berarti operasional BYAN otomatis dikonsolidasikan ke JARR,” ujar Nafan kepada Katadata, Kamis (17/9). Menurutnya, dampak aksi ini lebih bersifat tidak langsung melalui penguatan ekosistem usaha, diversifikasi sumber pendapatan grup, potensi sinergi logistik, energi, dan komoditas, serta penguatan posisi tawar bisnis Jhonlin.

Profil Bayan Resources

Bayan Resources bukan pemain kecil di industri batu bara nasional. Perusahaan ini tercatat sebagai produsen batu bara lima besar di Indonesia dan menargetkan Proyek Tabang/Pakar memproduksi lebih dari 60 juta ton per tahun pada 2026.

Bayan Group dikenal sebagai perusahaan tambang pertama di Indonesia yang menggunakan metode through-seam blasting di tambang Wahana. Perusahaan juga mengoperasikan sejumlah truk pengangkutan batu bara terbesar di Tanah Air dengan kapasitas hingga 250 ton.

Di lokasi tambang Tabang, Bayan menerapkan Fleet Management System (FMS) untuk memperbaiki akurasi dan efisiensi operasi tongkang. Perusahaan juga memiliki sejumlah infrastruktur pendukung, mulai dari Balikpapan Coal Terminal, Dermaga Perkasa dan Wahana, hingga dua Floating Transfer Barge (KFT).

Di sisi lain, kekayaan Low Tuck Kwong sempat menyusut signifikan. Melansir data real time Forbes, miliarder kelahiran Singapura yang kini menjadi warga negara Indonesia itu turun ke posisi ketiga dalam daftar orang terkaya Indonesia setelah kekayaannya menyusut 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp44,37 triliun (kurs Rp17.750 per dolar AS).

Kekayaannya turun menjadi 14,8 miliar dolar AS atau setara Rp262,69 triliun, berada di bawah pemilik Grup Djarum Robert Budi Hartono dan pendiri Barito Pacific Group Prajogo Pangestu yang masing-masing memiliki kekayaan 16,5 miliar dolar AS. Penurunan tersebut terjadi setelah saham BYAN anjlok 8,1 persen pada perdagangan Selasa, sehari setelah sebelumnya ambles 10,1 persen. Saham BYAN kemudian berbalik menguat pada perdagangan Rabu sehingga kekayaan Low kembali naik menjadi 16,2 miliar dolar AS, meski ia masih berada di posisi ketiga.

Pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026), harga saham BYAN berada di level Rp11.525 per lembar, naik 1,14 persen. Namun secara year-to-date, saham emiten batu bara ini masih mencerminkan penurunan 26,59 persen.

Transaksi pengalihan 30 persen saham Bayan Resources ini menjadi salah satu yang terbesar di sektor batu bara tahun ini. Pasar masih menantikan detail syarat pendahuluan yang harus dipenuhi Jhonlin Baratama, termasuk nilai transaksi dan harga jual saham yang belum diungkapkan perseroan. Terpenuhinya seluruh kondisi tersebut akan menentukan apakah Haji Isam benar-benar menguasai 30 persen saham BYAN dan bagaimana peta persaingan industri batu bara nasional ke depan.

Exit mobile version