Pezeshkian: Iran Ingin Damai, tapi Masih Tak Percaya pada AS

Cakrawala News – 29 September 2026 | Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran menginginkan perdamaian, namun tidak lagi mempercayai Amerika Serikat sebagai mitra perundingan. Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan Al Jazeera yang disiarkan pada Sabtu, 26 September 2026, di tengah kembali memanasnya ketegangan antara kedua negara. Pezeshkian: Iran ingin damai, tapi masih tak percaya pada AS menjadi pesan utama yang disorot dari wawancara tersebut, terutama setelah serangkaian serangan militer dan sanksi yang dilancarkan Washington terhadap Teheran.

Dalam wawancara itu, Pezeshkian mengatakan Iran tidak memiliki kepercayaan kepada pihak Amerika dan tidak mengetahui atas dasar apa kesepahaman dapat dicapai dengan mereka. Ia menekankan bahwa sejumlah putaran perundingan sebelumnya justru diikuti oleh serangan dan pemberlakuan sanksi baru. Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan tanpa jaminan yang jelas dari Washington.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat berada di Amerika Serikat untuk menghadiri rangkaian pertemuan tingkat tinggi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York City. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pertemuan di PBB menjadi panggung bagi Iran untuk menyampaikan sikap resminya di hadapan para pemimpin dunia.

Proposal Damai Tujuh Hari dan Syarat Iran

Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri pertempuran dalam perang AS-Israel terhadap Iran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Rencana itu diumumkan pada Jumat di Sidang Umum PBB dan berisi tiga syarat utama. Amerika Serikat diminta melepas dana Iran yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, dan mengakhiri blokade laut atas pelabuhan Iran.

Menurut Araghchi, langkah-langkah awal kesepakatan akan membutuhkan waktu empat hingga lima hari. Selat Hormuz kemudian akan dibuka kembali pada hari keenam. Pada hari ketujuh, perundingan dengan AS akan dimulai untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai sejumlah isu yang telah disepakati bersama, termasuk program nuklir Iran.

Berdasarkan proposal tersebut, Washington juga diminta mencairkan sekitar 12 miliar dolar AS aset Iran yang dibekukan serta menerapkan gencatan senjata yang mencakup kawasan, termasuk Lebanon dan Yaman. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz. Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur strategis tersebut. Kini, selat itu menjadi salah satu alat tawar utama Teheran.

Meski begitu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak rencana tersebut. Dalam pernyataan di Gedung Putih pada Sabtu, Trump mengatakan Iran ingin segera membuat kesepakatan karena mereka kalah begitu parah. Ia mengaku juga ingin membuat kesepakatan, tetapi menyebut proposal Iran tidak dapat diterima. Penolakan ini membuat krisis Selat Hormuz tetap menggantung dan jalur minyak dunia terus tercekik.

Menanggapi penolakan Trump, Araghchi lewat Telegram pada Sabtu menegaskan Iran tidak akan mundur dari syaratnya. Ia mengklaim para mediator belum menyampaikan pesan resmi, sembari menuding Trump sering membuat pernyataan kontradiktif. Araghchi mengatakan Iran menunggu pendapat definitif yang disalurkan mediator sebelum memutuskan langkah berikutnya. Ia menegaskan hanya solusi yang dinegosiasikan yang bisa membawa AS keluar dari kebuntuan.

Sehari sebelumnya, pejabat AS sudah memberi sinyal bahwa Trump akan menolak proposal Iran. The Wall Street Journal mengutip pejabat anonim yang menyebut Trump secara pribadi skeptis Iran akan memenuhi tuntutannya. Laporan itu juga menyebut Trump mengatakan kepada para ajudannya bahwa ia memperkirakan kampanye pengeboman baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada November. Jika benar, hal ini menempatkan diplomasi sekadar sebagai jeda taktis, bukan pintu keluar strategis.

Mediator Qatar dan Pakistan

Pezeshkian mengungkapkan bahwa Qatar dan Pakistan sebagai mediator tengah menyampaikan pesan-pesan Iran kepada Washington. Ia menyebut perundingan tersebut mengacu pada Memorandum of Understanding (MoU) yang sebelumnya disepakati kedua pihak pada Juni. Namun, kesepakatan itu berakhir bulan lalu, sehingga AS perlu memperjelas kembali sikapnya terhadap perjanjian tersebut.

Pezeshkian juga menegaskan dirinya tidak melihat adanya kebutuhan untuk bertemu Trump selama pihak AS belum memenuhi kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya. Pernyataan ini menegaskan posisi Iran yang menuntut kepastian lebih dulu sebelum kembali bernegosiasi. Pezeshkian: Iran ingin damai, tapi masih tak percaya pada AS menjadi cerminan sikap resmi Teheran yang menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji.

Konflik AS-Iran pecah setelah Washington bersama Israel secara sepihak menyerang sejumlah tempat di Iran pada 28 Februari lalu. Agresi militer itu memicu serangan balasan dari Iran. Perang dimulai pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Setelah saling serang berjalan beberapa bulan, pada pertengahan Juni, Iran dan AS sepakat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan.

Kendati sudah ada nota kesepahaman itu, konflik bersenjata kedua negara kembali berkobar dan hingga kini belum terselesaikan. Situasi ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang tidak disertai jaminan politik dan ekonomi yang kuat rentan kembali runtuh. Iran menilai AS tidak konsisten menjalankan komitmennya, sementara Washington menuduh Teheran tidak serius memenuhi tuntutan.

Dampak Global dan Prospek ke Depan

Dari Washington, koresponden Al Jazeera Mike Hanna menilai proposal Iran mati sebelum berkembang. Hanna menambahkan Trump tidak menawarkan alternatif, sehingga kebijakan AS tampak memilih bertahan dalam status limbo. Di saat yang sama, sebagian publik Amerika khawatir konflik Iran berubah menjadi perang tanpa akhir. Kekhawatiran ini mengingatkan pola lama, yakni perang panjang yang membebani anggaran, legitimasi, dan stabilitas global.

Bagi pasar global, ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor risiko utama. Jalur pelayaran itu menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia, sehingga setiap ancaman terhadap kebebasan navigasi berpotensi mengerek harga energi. Judul pemberitaan mengenai lonjakan harga minyak usai Trump menolak usulan damai Iran mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan ini.

Pezeshkian: Iran ingin damai, tapi masih tak percaya pada AS juga menggambarkan dilema diplomasi Teheran. Di satu sisi, Iran membutuhkan pencabutan sanksi untuk memulihkan ekonomi. Di sisi lain, pengalaman pahit serangan militer membuat kepercayaan terhadap Washington sulit dibangun kembali. Iran kini menunggu pendapat definitif dari para mediator sebelum menentukan langkah berikutnya.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah Qatar dan Pakistan mampu menjembatani perbedaan posisi kedua pihak. Selain itu, sikap AS setelah pemilu paruh waktu November menjadi penentu apakah jalur diplomasi masih terbuka atau justru kembali berputar ke eskalasi militer. Tanpa terobosan, krisis ini berpotensi berlarut-larut dan memperbesar ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.

Exit mobile version