Cakrawala News – 13 September 2026 | Putra Mahkota Arab Saudi sekaligus Perdana Menteri Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta bantuan militer menghadapi kelompok Houthi, setelah kelompok tersebut merebut Pulau Perim atau Mayyun yang strategis di Selat Bab Al Mandab, Yaman. Permintaan itu disampaikan di tengah memanasnya situasi di jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden tersebut.
Seorang pejabat Yaman yang tidak disebutkan namanya mengatakan pasukan Houthi memasuki Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah meninggalkan wilayah tersebut sehari sebelumnya. Menurut pejabat itu kepada AFP, perahu-perahu yang mengangkut petempur bersenjata Houthi tiba di Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah menarik diri dari sana.
“Kelompok Houthi telah merampungkan pengambilalihan wilayah Bab Al Mandab dan Pulau Mayyun, yang terletak di tengah selat tersebut,” kata pejabat tersebut, seperti dikutip dalam laporan yang beredar Jumat (11/9/2026).
Seorang saksi mata juga menyatakan kelompok bersenjata mulai menempatkan diri di sepanjang pesisir Bab Al Mandab. Mereka terlihat berkeliling menggunakan kendaraan militer.
Permintaan Bantuan Militer ke Washington
Reuters melaporkan, berdasarkan tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, pemerintah Saudi meminta bantuan militer kepada Presiden AS Donald Trump pada Kamis (10/9/2026). Trump disebut melakukan setidaknya dua percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada hari yang sama.
Namun, Trump tidak menyetujui usulan agar AS melancarkan serangan terhadap Houthi. Washington disebut menawarkan bentuk bantuan lain kepada Riyadh berupa pertukaran informasi intelijen dan penentuan target serangan. Gedung Putih tidak memberikan tanggapan mengenai laporan percakapan Trump dengan MBS tersebut.
Stasiun televisi ABC, mengutip beberapa sumber pejabat AS, melaporkan militer AS tidak akan terlibat langsung dalam serangan, melainkan hanya memberikan bantuan. Meski demikian, AS mungkin akan mengubah kebijakannya bergantung pada situasi, terutama jika eskalasi di Laut Merah, jalur penting lalu lintas energi dunia, meningkat.
Kepala Komando Pusat (Centcom) AS, Laksamana Brad Cooper, berkunjung ke Arab Saudi pada Jumat (11/9/2026) untuk mengikuti pertemuan koordinasi mendesak membahas serangan Houthi. Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan Washington terus berkomunikasi dengan Arab Saudi dan pemerintah Yaman.
Houthi Kuasai Sejumlah Wilayah Pesisir
Mengutip India Today, sumber dari pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengatakan pasukan pemerintah telah mundur dari Pulau Perim. Mereka juga menyebut Houthi telah merebut kota pesisir Dhubab di Laut Merah yang berhadapan langsung dengan pulau tersebut.
Houthi juga dilaporkan telah merebut Kepulauan Hanish di Laut Merah dan kota pesisir penting Mocha dalam serangan cepat mereka sepanjang pekan ini. Perkembangan tersebut berpotensi semakin menekan sektor pelayaran global dan pasokan energi, mengingat Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Kemajuan Houthi tersebut terjadi ketika kelompok itu menghadapi tuduhan meningkatkan serangan atas arahan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Iran disebut telah mendesak Houthi untuk meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi serta menjanjikan tambahan pendanaan, senjata, dan perwira senior. Tuduhan tersebut belum disertai penjelasan resmi dari pihak Iran dalam laporan yang ada.
Pemerintah Yaman Siapkan Serangan Balasan
Pasukan pemerintah Yaman mengisyaratkan akan melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah di sepanjang pesisir Laut Merah yang telah dikuasai Houthi. Yaman dilaporkan akan mengerahkan senjata dan pesawat untuk menargetkan posisi Houthi di sejumlah wilayah strategis, termasuk jalur menuju Mocha.
Eskalasi ini terjadi ketika Selat Hormuz masih mengalami gangguan parah setelah perang antara AS dan Israel dengan Iran. Selat tersebut biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, sehingga rute alternatif melalui Arab Saudi dan Laut Merah menjadi semakin penting.
Dengan posisi Bab Al Mandab yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, penguasaan Pulau Perim oleh Houthi menambah lapisan risiko bagi pelayaran internasional. Bagi Arab Saudi, permintaan bantuan kepada Washington menunjukkan bahwa Riyadh menilai ancaman Houthi tidak lagi bisa ditangani hanya melalui jalur diplomatik atau pertahanan mandiri.
Sikap AS yang belum bersedia melakukan tindakan militer langsung, namun menawarkan dukungan intelijen dan penentuan target, menjadi penanda bahwa Washington masih menghitung risiko eskalasi lebih luas di kawasan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada apakah pemerintah Yaman benar-benar melancarkan serangan balasan dan bagaimana respons Houthi terhadap tekanan internasional yang meningkat.
