Cakrawala News – 10 Oktober 2026 | Saham-saham terafiliasi konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mencatatkan kinerja cemerlang di tengah tekanan yang menimpa banyak saham konglomerasi lain sepanjang tahun ini. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melonjak 73,48% secara year to date, sementara PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melesat 44,20%. Adapun PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) terkoreksi tipis 3,53% sejak awal Januari. Analis menilai penguatan saham Boy Thohir ini masih berpeluang berlanjut hingga akhir tahun, ditopang fundamental emiten dan prospek komoditas energi.
Kinerja ketiga saham itu kontras dengan mayoritas emiten konglomerasi lain yang justru tertekan. Saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu, misalnya, anjlok tajam. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 54,13%, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) keok 69,59%, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) rontok 74,86%.
Tekanan serupa juga dialami saham Grup Bakrie. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merosot 49,45% secara year to date, sedangkan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 45%. Di grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) hanya naik 1,48%, sementara anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), merosot 17,07%. PT Amman Mineral Tbk (AMMN) juga terperosok 30,74%.
Fundamental Emiten Jadi Penopang Utama
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry, menilai penguatan saham-saham Grup Adaro bukan semata efek Santa Rally di akhir tahun. Menurutnya, ada kombinasi tiga faktor yang bekerja bersamaan, yakni fundamental grup, harga komoditas, dan ekspektasi aliran modal ke saham energi.
“Saya masih melihat prospek positif sampai akhir tahun, ditopang fundamental grup, harga komoditas dan ekspektasi capital flow ke saham energi,” kata Elandry.
Dari sisi kinerja keuangan, AADI membukukan laba bersih US$ 473,76 juta atau setara Rp 8,47 triliun pada semester pertama tahun ini, naik 10,51% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 428,68 juta. Pendapatan AADI naik menjadi US$ 2,54 miliar dari US$ 2,39 miliar secara tahunan.
Pendorong utamanya adalah penjualan batu bara domestik yang meningkat 16,49% menjadi US$ 400,43 juta dari US$ 343,75 juta. Sebaliknya, penjualan batu bara ekspor turun sekitar 2,03% menjadi US$ 1,82 miliar dari US$ 1,86 miliar.
ADRO mencatat pertumbuhan laba paling agresif di antara ketiganya. Laba bersih ADRO melesat 76,83% menjadi US$ 309,36 juta dari US$ 174,94 juta pada periode sebelumnya. Lonjakan itu seiring kenaikan pendapatan perseroan menjadi US$ 999,24 juta dari US$ 857,69 juta.
Penjualan hasil tambang ADRO ke pihak ketiga mencapai US$ 370,27 juta, melonjak 58,15% dari US$ 234,11 juta. Penjualan domestik menyumbang US$ 244,95 juta, sedangkan ekspor naik 40,42% menjadi US$ 125,32 juta. ADRO juga membukukan pendapatan US$ 210,12 juta dari penjualan hasil tambang kepada pihak berelasi, terutama dari ekspor yang mencapai US$ 208,65 juta.
Target Harga dan Katalis Masing-Masing Saham
Elandry menilai AADI menjadi saham paling menarik dari sisi arus kas dan potensi dividen. Ia memberikan target harga AADI di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per saham.
Untuk ADRO, katalis utama datang dari diversifikasi bisnis, terutama pengembangan bisnis aluminium. Elandry memperkirakan saham ADRO memiliki target harga Rp 3.000 hingga Rp 3.300 per saham.
Sementara itu, ADMR lebih mengandalkan prospek pertumbuhan dari bisnis batu bara metalurgi dan smelter aluminium. Elandry memperkirakan saham ADMR dapat mencapai Rp 1.900 hingga Rp 2.100, meski memiliki tingkat volatilitas yang lebih tinggi dibanding dua saham lainnya.
Prospek lanjutan penguatan saham Boy Thohir ini masih akan dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas energi, arus modal asing ke sektor energi, serta realisasi kinerja keuangan masing-masing emiten pada kuartal berikutnya. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga batu bara dan aluminium, mengingat kedua komoditas itu menjadi penopang utama bisnis ketiga emiten.
Dengan fundamental yang masih solid dan ekspektasi aliran modal ke saham energi, AADI, ADRO, dan ADMR menjadi salah satu kelompok saham yang layak dicermati hingga penutupan tahun, meski risiko volatilitas pasar tetap perlu diperhitungkan.
