Cakrawala News – 28 September 2026 | Teka-teki kematian istri dokter di Cirebon, tak ada barang hilang, hubungan dengan suami terungkap menjadi sorotan setelah Karningsih, 66 tahun, ditemukan tewas dengan sejumlah luka tusuk di rumahnya di Jalan Raya Pangeran Sutajaya, Desa Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Kamis, 24 September, sore. Polresta Cirebon menyatakan belum menemukan barang yang hilang dari rumah korban, sehingga dugaan perampokan untuk sementara dianggap kecil. Korban merupakan istri seorang dokter berinisial dr Edi, 68 tahun, yang menemukan jasadnya sepulang dari tempat praktik sekitar pukul 17.15 WIB.
Kasat Reskrim Polresta Cirebon, Kompol Irfan Alireja, mengungkapkan bahwa pihaknya menerapkan metode Scientific Crime Investigation (SCI) atau penyidikan berbasis ilmiah untuk mengurai kasus ini. Pendekatan tersebut diambil agar setiap temuan di tempat kejadian perkara dapat dianalisis secara akurat guna menyusun konstruksi perkara.
“Kami menggunakan penyidikan dengan pendekatan scientific crime investigation. Maka dari itu, kami mengundang tim dari Inafis Polda Jawa Barat serta Puslabfor Mabes Polri untuk menganalisa dan memeriksa TKP,” ujar Irfan saat ditemui di lokasi kejadian.
Dalam proses olah TKP, polisi menggandeng personel Inafis Polda Jawa Barat dan tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri. Kehadiran tim ahli forensik itu bertujuan mengurai berbagai temuan di lapangan, termasuk sejumlah barang bukti yang telah diamankan untuk diuji secara laboratoris.
“Kami telah mengamankan beberapa barang bukti yang kemungkinan akan dijadikan alat bukti. Kami akan menganalisa seluruh temuan ini berkolaborasi dengan Inafis dan Puslabfor,” kata Irfan.
Kronologi dan Rentang Waktu Kejadian
Peristiwa nahas itu terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat, antara pukul 16.30 hingga 16.50 WIB. Dalam kurun sekitar 20 menit tersebut, korban tewas akibat beberapa tusukan benda tajam.
Sekretaris Desa Babakan, Abi Fahmi, menyatakan bahwa korban sempat berkomunikasi dengan adiknya melalui aplikasi WhatsApp sekitar pukul 16.30 WIB. Dalam pesan itu, korban meminta dibelikan bubur ayam. Komunikasi tersebut menjadi salah satu jejak terakhir yang diketahui sebelum korban ditemukan tak bernyawa.
Sejumlah luka ditemukan pada tubuh korban, termasuk pada bagian dada dan perut. Meski demikian, kepolisian belum menyampaikan secara rinci bentuk maupun bagian tubuh yang mengalami luka karena masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan awal di lokasi dilakukan pada Kamis malam, dan olah TKP dilanjutkan pada Jumat untuk memperkuat proses penyelidikan.
Jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu untuk menjalani autopsi. Pemeriksaan forensik itu diperlukan guna mengetahui kondisi tubuh serta penyebab kematian korban secara pasti.
“Jenazah sudah dibawa ke rumah sakit dan akan dilakukan autopsi oleh ahli forensik,” kata Irfan.
Hingga Jumat malam, 25 September, kasus ini masih menyisakan tanda tanya besar. Polisi belum dapat memastikan penyebab kematian maupun dugaan adanya barang yang hilang dari rumah korban, termasuk informasi mengenai perampokan yang sempat beredar di media sosial.
“Kami masih melakukan proses penyelidikan sehingga belum bisa menyimpulkan mengenai dugaan barang yang hilang,” ujar Irfan.
Saksi Diperiksa dan Hubungan dengan Suami Korban
Selain fokus pada bukti fisik, penyidik telah memeriksa sedikitnya tujuh orang saksi. Keterangan mereka akan dicocokkan dengan hasil olah TKP dan pemeriksaan forensik untuk memperjelas kronologi kejadian, mulai dari sebelum hingga korban ditemukan meninggal dunia.
Dua saksi kunci yang terus dimintai keterangan terperinci adalah dr Edi, suami korban, dan Sentot, 60 tahun, adik korban. Keduanya merupakan orang terakhir yang terhubung dengan korban. Namun, karena keduanya adalah orang terdekat korban, suasana hati mereka dilaporkan sangat sedih dan terkejut sehingga polisi memilih bersabar dalam melakukan wawancara.
Hubungan korban dengan suaminya menjadi salah satu fokus penyelidikan, terutama karena dr Edi adalah orang yang pertama kali menemukan jasad korban. Meski demikian, kepolisian belum menyampaikan kesimpulan apa pun terkait hal tersebut dan menegaskan bahwa penyelidikan masih berjalan intensif.
Menurut Irfan, penyelidikan sejauh ini tidak menemui kendala berarti. Ia juga berharap peran serta masyarakat untuk mendukung proses hukum ini.
“Kami meminta masyarakat memberikan dukungan agar proses penyelidikan dapat berjalan dengan baik hingga seluruh fakta dalam perkara tersebut terungkap,” terangnya.
Konteks Penyidikan dan Tekanan Waktu
Dalam kriminologi pembunuhan, unsur waktu dikenal sebagai critical investigative window (CIW), yakni periode ketika peluang memperoleh tersangka, saksi, dan bukti yang masih hangat berada pada titik paling besar. Rentang CIW pembunuhan umumnya antara 48 hingga 72 jam. Lewat dari periode itu, pengungkapan kasus menjadi kian sulit.
Standar tersebut dipublikasikan Federal Bureau Investigation Law Enforcement Bulletin dalam tulisan bertajuk Malleability of Deception karya David Matsumoto dan rekan-rekan. Karena itu, kepolisian dituntut bergerak cepat dan tepat, meski harus tetap berhati-hati agar tidak mengganggu proses penyidikan.
Hingga saat ini, polisi belum menyimpulkan motif di balik kematian korban. Dugaan perampokan untuk sementara dianggap kecil karena tidak ada barang yang hilang dari rumah. Namun, kepolisian menegaskan bahwa kesimpulan akhir baru akan diambil setelah seluruh temuan dianalisis bersama tim forensik.
Masyarakat diimbau tidak berspekulasi berlebihan dan menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada aparat. Perkembangan kasus ini akan sangat bergantung pada hasil autopsi, uji laboratorium barang bukti, serta keterangan para saksi yang terus didalami. Hingga fakta-fakta itu terungkap, teka-teki kematian istri dokter di Cirebon, tak ada barang hilang, hubungan dengan suami terungkap masih menyisakan pertanyaan besar yang menunggu jawaban dari proses penyidikan.
