Cakrawala News – 12 September 2026 | BMKG ungkap kondisi cuaca saat 5 jurnalis peliput Anak Krakatau hilang menunjukkan situasi yang relatif baik pada Senin (7/9/2026) sore. Plh Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ida Pramuwardani menyatakan cuaca di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, terpantau cerah hingga berawan tanpa indikasi hujan. Informasi ini menjadi salah satu rujukan penting tim SAR gabungan yang hingga Kamis (10/9/2026) atau hari keempat belum menemukan keberadaan para korban.
Ida menjelaskan, pada rentang pukul 14.00 hingga 18.00 WIB, tidak terdeteksi adanya hujan di kawasan tersebut. Kecepatan angin tercatat maksimal sekitar 15 knot atau setara 7,5 meter per detik. Sementara itu, tinggi gelombang laut maksimal sekitar satu meter. Menurutnya, kondisi cuaca maupun gelombang tidak menunjukkan hal yang signifikan sehingga mengganggu keselamatan di sekitar Krakatau.
Debu Vulkanik Jadi Faktor yang Perlu Diwaspadai
Meski cuaca terpantau baik, BMKG mengingatkan adanya faktor lain yang perlu diperhatikan, yakni aktivitas debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi. Berdasarkan pemantauan citra satelit, sebaran debu vulkanik pada Senin masih terpantau hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki atau sekitar 15.000 meter.
“Nah yang perlu diperhatikan adalah kondisi di sekitar Krakatau itu sendiri. Apakah di situ kondisinya banyak debu dan lain sebagainya,” kata Ida di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026). Ia menambahkan, kondisi cuaca baik tersebut diperkirakan masih bertahan hingga beberapa hari setelah kejadian, dan BMKG tidak melihat potensi hujan signifikan dalam tiga hari ke depan.
Informasi BMKG tersebut menjadi acuan tim pencarian dan pertolongan dalam menentukan strategi di lapangan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menegaskan pihaknya masih berpatokan pada data BMKG. “Semua sektor ya, kita lakukan pencarian berdasarkan data BMKG yang kami dapatkan. Untuk cuaca saat ini cerah berawan ya, mudah-mudahan sampai sore hari cerah berawan. Karena itu sangat mengganggu visibility apabila ada perubahan,” ujar Amrad di Posko Gabungan SAR, Carita, Pandeglang, Kamis (10/9/2026).
Pencarian Hari ke-4 Belum Membuahkan Hasil
Memasuki hari keempat, tim SAR gabungan belum menemukan keberadaan lima jurnalis maupun tiga orang lainnya yang hilang kontak sejak Senin (7/9/2026). Kelima pewarta foto itu adalah Muhammad Bagus Khoirunas dari ANTARA, Arie Basuki dari merdeka.com, Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira dari iNews, dan Daus dari Anadolu. Mereka melakukan perjalanan menuju kawasan perairan Selat Sunda untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Amrad menyebut, berdasarkan pemantauan visual menggunakan teropong, belum ada tanda penemuan. Tim SAR gabungan bersama nelayan setempat sempat menyisir pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau. Namun, pencarian langsung di Pulau Sertung belum dapat dilakukan karena PVMBG menyatakan daerah tersebut masih rawan lantaran memasuki radius 3 kilometer dari gunung.
“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ,” papar Amrad. Ia menambahkan, Basarnas juga memperluas pencarian menggunakan drone di Pulau Sangiang dengan Kapal Negara Search and Rescue (KN SAR) Tetuka, tetapi belum menunjukkan hasil maksimal karena wilayah masih tertutup kabut asap tebal.
Dari enam sektor pencarian, petugas hanya menemukan life jacket dan pelampung botol di sekitar wilayah Anyer. Amrad belum bisa memastikan apakah pelampung tersebut berasal dari kapal yang ditumpangi para jurnalis, dan pihaknya akan melakukan identifikasi terlebih dahulu. Sementara itu, pemilik kapal Arupadhatu 1 memastikan pelampung yang ditemukan TNI AL itu bukan yang berada di kapalnya.
Terkait pencarian melalui udara, Amrad menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi untuk mengerahkan helikopter. Upaya sebelumnya sempat dicoba hingga daerah Pesisir Carita pada ketinggian kurang dari 15.000 hingga 25.000 kaki, namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban. Menurutnya, cuaca pada hari sebelumnya tidak mendukung pencarian lewat udara.
Ia juga menyebut penambahan alat utama yang digunakan masih sama seperti hari sebelumnya. Secara keseluruhan, personel yang terlibat mencapai lebih dari 300 orang, termasuk yang bertugas di posko. Basarnas menegaskan tetap mengacu pada informasi BMKG dan PVMBG terkait perkembangan cuaca serta kondisi lapangan demi keselamatan proses pencarian.
“Jadi, rekan-rekan yang dari BMKG termasuk dari PVMBG itu selalu memberikan informasi, mereka melaporkan per jam perkembangannya, apabila ada urgensi, itu akan menyampaikan ke kami,” tutur Amrad.
Keluarga Masih Menanti Kabar di Posko Pencarian
Di Dermaga Marina, Carita, Pandeglang, keluarga para korban terus menanti kabar. Afrita Dewi, kakak ipar Arie Basuki, mengaku sengaja datang dari Cinere, Depok, ke posko pencarian sejak Rabu (9/9) untuk menunggu informasi langsung dari tim SAR. Ia mengaku tidak bisa tidur nyenyak setelah mengetahui adik iparnya termasuk dalam rombongan yang hilang.
“Saya nggak bisa tidur, lalu saya putuskan Rabu sore ke sini. Saya berharap mudah-mudahan Ari dan teman-teman semua ketemu,” kata Afrita. Pihak keluarga masih berharap para penumpang kapal dapat ditemukan selamat, meski Afrita menyatakan sudah siap menerima kemungkinan terburuk. “Terakhir katanya di satu pulau, semoga itu benar. Ya semoga itu benar. Kita berharap, walaupun yang terburuk pun siap karena semua takdir Allah,” ungkapnya.
Kakak ipar Arie lainnya, Nila Kusuma, menyebut keluarga pertama kali menerima kabar hilangnya adik iparnya dari pemberitaan. Saat itu, istri Arie sempat datang ke kediamannya dalam keadaan sangat terpukul.
Hingga hari keempat, belum ada kepastian mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga orang lainnya. Kombinasi cuaca yang terpantau cerah namun disertai sebaran debu vulkanik serta kabut asap tebal di sejumlah titik menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR. Selain itu, status rawan di sekitar Pulau Sertung membatasi ruang gerak pencarian darat, sehingga optimalisasi pemantauan visual, drone, dan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci. BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi cuaca dan kondisi vulkanik secara berkala untuk mendukung keselamatan seluruh petugas di lapangan.
