Cakrawala News – 19 Oktober 2026 | Otoritas Lingkungan Nasional (NEA) Singapura kembali melayangkan Preventive Measure Notice (PMN) kepada tiga perusahaan tambahan di Indonesia terkait peran mereka dalam polusi haze lintas batas. Ketiga perusahaan itu adalah PT Buana Megatama Jaya, PT Mananjung Hayak, dan PT Baratama Putra Perkasa. Dengan tambahan ini, total perusahaan Indonesia yang menerima notis pada bulan ini mencapai 10 entitas.
Pengumuman tersebut disampaikan NEA pada Senin, 19 Oktober 2026. Ketiga perusahaan baru itu menyusul tujuh perusahaan lain yang lebih dulu dilayangkan notis pada 16 Oktober 2026.
Dalam siaran medianya, NEA menyatakan terdapat indikasi bahwa asap dari kebakaran di Kalimantan, yang terjadi pada lahan konsesi di bawah ketiga perusahaan tersebut, mungkin telah terbawa ke arah Singapura. Mananjung Hayak merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit, sedangkan Baratama Putra Perkasa dan Buana Megatama Jaya merupakan perusahaan perkebunan pulp.
Isi Notis yang Diberikan
Melalui notis tersebut, NEA meminta perusahaan-perusahaan itu mengambil sejumlah langkah konkret. Mereka diwajibkan mengerahkan personel pemadam kebakaran untuk memadamkan atau mencegah penyebaran api di lahan yang dimiliki atau dikuasai perusahaan.
Perusahaan juga diminta menghentikan atau tidak memulai aktivitas pembakaran apa pun di lahan tersebut. Selain itu, mereka harus menyerahkan rencana aksi kepada NEA yang menguraikan cara memadamkan api serta mencegah terulangnya kebakaran di lahan mereka.
“NEA tetap berkomitmen untuk mengambil tindakan penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan nakal yang terbukti bertanggung jawab menyebabkan haze lintas batas di Singapura,” demikian pernyataan lembaga tersebut.
Dasar Identifikasi dan Keterkaitan Perusahaan
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura Grace Fu sebelumnya mengungkapkan bahwa tujuh perusahaan awal yang bertanggung jawab atas kebakaran penyebab haze di Sumatera diidentifikasi melalui analisis citra satelit dan data meteorologi tentang titik panas serta gumpalan asap regional.
Ketujuh perusahaan yang diidentifikasi pada 16 Oktober itu adalah Bumi Andalas Permai, Bumi Mekar Hijau, SBA Andalas Wood Industries, Paramitra Mulia Langgeng, Sumatera Alam Anugerah, Hutan Lestari Raya, dan Bangkanesia.
Dari 10 perusahaan yang teridentifikasi sejauh ini, sembilan di antaranya merupakan perkebunan pulp, sementara satu lainnya adalah perkebunan kelapa sawit. Empat dari 10 perusahaan tersebut, yakni Bumi Andalas Permai, Bumi Mekar Hijau, SBA Wood Industries, dan Buana Megatama Jaya, disebut sebagai pemasok bagi Asia Pulp & Paper (APP), bagian dari konglomerasi Sinar Mas.
Dampak pada Aktivitas Warga
Memburuknya kualitas udara imbas haze juga memaksa warga Singapura menyesuaikan rutinitas. Sejumlah kegiatan olahraga luar ruang dibatalkan, dan Sport Singapore sempat menutup fasilitas olahraganya untuk sementara.
Di tengah kondisi itu, sekelompok pelari dari X-Run Singapore mengambil langkah tak biasa. Pada Sabtu, 17 Oktober, mereka menggelar lari di dalam Mal Marina Square, melewati toko-toko yang tutup. Kegiatan itu disebut sebagai lari di mal pertama di Singapura.
Joseph Estrella, penyelenggara acara sekaligus run lead X-Run Singapore, membagikan cuplikan kegiatan tersebut melalui Instagram. Ia menyebut kelompoknya sangat menikmati lari dalam ruang perdana itu karena tetap bisa berlatih sambil menghindari haze.
Peserta menempuh jarak antara 9 kilometer hingga 21 kilometer melintasi lantai dua dan tiga mal selama sesi dua jam, dari pukul 07.00 hingga 09.00 pagi. Salah satu peserta, Elmer Loy, mengaku kepada The Straits Times bahwa ia telah berlari di treadmill selama lebih dari sepekan karena kondisi haze mengganggu rutinitasnya.
Seruan Respons Berbasis Ilmiah
Di sisi lain, dua kelompok masyarakat, Rakyat in Action (Engage) dan Projek Sama, menyerukan agar respons terhadap krisis haze dilandasi penalaran dan bukti ilmiah, bukan keputusan yang bersifat seremonial. Dalam pernyataan bersama pada Senin, keduanya mendesak pemerintah memprioritaskan bantuan bagi kelompok paling terdampak.
Usulan mereka mencakup pembagian masker N95 gratis bagi kelompok rentan, seperti anak sekolah, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruang, rumah tangga B40, serta penderita gangguan pernapasan atau jantung. Mereka juga mengusulkan subsidi penyaring udara HEPA bagi keluarga B40, khususnya yang memiliki anak kecil dan anggota lanjut usia atau sakit.
Selain itu, kedua kelompok meminta bantuan finansial disalurkan melalui skema kesejahteraan yang sudah ada kepada pekerja harian, pekerja mandiri, dan orang tua berpenghasilan rendah yang kehilangan pendapatan selama penutupan sekolah. Bantuan darurat terbatas juga diusulkan bagi usaha kecil yang bergantung pada sekolah.
“Dan pengusaha harus didorong menyediakan pengaturan kerja fleksibel dan cuti darurat mengasuh anak tanpa menghukum staf yang tidak punya alternatif,” tambah mereka dalam pernyataan itu.
Memburuknya situasi haze juga mendorong sejumlah anggota parlemen mendesak pemerintah mengambil tindakan lebih tegas. Anggota Parlemen Tasek Gelugor, Wan Saiful Wan Jan, menyerukan investigasi terhadap perusahaan Malaysia yang diduga terkait kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia, serta pembentukan dana kompensasi khusus bagi korban haze.
Langkah NEA menambah daftar perusahaan yang diminta bertanggung jawab atas kebakaran lahan yang memicu polusi lintas batas. Ke depan, publik akan mencermati apakah rencana aksi yang diserahkan perusahaan benar-benar dijalankan dan apakah jumlah entitas yang dikenai notis terus bertambah seiring pemantauan titik panas di kawasan.
