Putin Tolak Gencatan Senjata Serangan Jarak Jauh, Ancam Nuklir jika Kaliningrad Diserang

Putin Tolak Gencatan Senjata Serangan Jarak Jauh, Ancam Nuklir jika Kaliningrad Diserang
Putin Tolak Gencatan Senjata Serangan Jarak Jauh, Ancam Nuklir jika Kaliningrad Diserang

Cakrawala News – 05 Oktober 2026 | Presiden Rusia Vladimir Putin secara tegas menolak peluang gencatan senjata terkait serangan jarak jauh dengan Ukraina. Sikap Putin Tolak Peluang Gencatan Senjata Serangan Jarak Jauh Rusia-Ukraina itu disampaikan di tengah meningkatnya intensitas serangan udara Moskow ke sejumlah wilayah Ukraina, termasuk ke ibu kota Kiev. Pernyataan tersebut muncul setelah pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 22 September 2026.

Menurut laporan Al Jazeera dan AFP, Rusia belakangan meningkatkan serangan jarak jauhnya yang menyasar perusahaan baja Ukraina serta rantai pasokan, khususnya di sektor perkeretaapian dan gudang-gudang berukuran besar. Kiev menuduh Moskow sengaja menargetkan sejumlah fasilitas sipil, sehingga negaranya terus berada dalam kondisi siaga tinggi menjelang musim dingin yang diperkirakan kembali berat.

Zelenskyy sebelumnya menyatakan Kiev siap menghentikan serangan terhadap kilang minyak dan fasilitas energi Moskow apabila Rusia juga menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina. Namun, Putin menutup peluang tersebut.

Putin Sebut Tawaran Gencatan Senjata Itu Konyol

Putin mengungkapkan bahwa Rusia sebelumnya menerima tawaran untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal Ukraina dengan imbalan penghentian serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Ia menilai tawaran itu tidak masuk akal.

“Kami diberi tahu: ‘Biarkan mereka berhenti menyerang kilang minyak Anda, dan Anda akan berhenti menyerang kapal-kapal mereka.’ Itu sungguh konyol,” ujar Putin, seperti dilansir AFP.

Ketika ditanya mengenai sikap Rusia terhadap gagasan tersebut, Putin memberikan jawaban singkat yang menegaskan penolakan. Pernyataan itu memperkuat posisi Moskow yang enggan menghentikan serangan jarak jauhnya di tengah perang yang kini memasuki tahun kelima.

Putin juga mengakui bahwa serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia berdampak signifikan terhadap perekonomian negaranya. Menurutnya, serangan tersebut telah memangkas sekitar satu persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia. Serangan itu turut memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai wilayah Rusia pada musim panas lalu.

Antrean panjang kendaraan dilaporkan terjadi di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di kota-kota besar Rusia. Serangan terhadap perusahaan ritel daring terbesar Rusia turut menambah tekanan pada perekonomian masa perang yang sudah berada dalam kondisi sulit. Putin menyebut Moskow kini sedang memberikan balasan yang setimpal atas serangan-serangan tersebut.

Di sisi lain, serangan Rusia menghantam sejumlah target di Ukraina. Pada Kamis (1/10/2026), sebuah drone Rusia dilaporkan menghantam sebuah sekolah di Kiev di tengah serangan udara tanpa henti yang melanda ibu kota Ukraina. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu karena anak-anak dan staf sekolah sedang berada di tempat perlindungan saat serangan terjadi.

Ukraina Pakai Rudal Balistik FP-7 untuk Pertama Kali

Zelenskyy mengatakan Ukraina mengerahkan rudal balistik taktis FP-7 dalam pertempuran untuk pertama kalinya dalam serangannya ke Rusia. Namun, ia tidak merinci lokasi maupun target rudal tersebut.

Pada awal 2026, Zelenskyy sempat memuji hasil uji coba rudal balistik taktis itu dan menyatakan rudal tersebut menunjukkan potensi baik untuk digunakan dalam militer. Para analis militer Ukraina mendeskripsikan FP-7 sebagai rudal jarak pendek dengan jangkauan sekitar 200 kilometer yang memiliki biaya jauh lebih murah.

Serangkaian serangan timbal balik itu juga berdampak pada aktivitas ekspor biji-bijian Ukraina melalui Laut Hitam. Komoditas tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi Kiev. Putin bahkan menyebut manuver militer Ukraina di Laut Hitam telah melumpuhkan lebih dari 100 kapal Rusia.

Peringatan Nuklir soal Kaliningrad

Dalam forum Valdai Discussion Club di Moskow pada Kamis (1/10/2026), Putin juga memperingatkan negara-negara Barat agar tidak memperuncing perang di Ukraina. Ia menegaskan Rusia siap menggunakan seluruh persenjataan yang dimilikinya, termasuk senjata nuklir, jika Kaliningrad diserang.

Kaliningrad adalah wilayah eksklave Rusia di kawasan Baltik yang diapit dua negara anggota NATO, yakni Polandia dan Lituania. Peringatan itu muncul setelah NATO baru-baru ini menggelar latihan militer di sekitar Kaliningrad. NATO menyebut latihan tersebut bersifat defensif dan bertujuan memperkuat daya tangkal, namun latihan itu memicu kekhawatiran di Moskow.

“Latihan di Laut Baltik terus dilakukan satu demi satu. Kemudian ada upaya untuk menahan kapal-kapal kami. Semua ini merupakan eskalasi. Setelah itu, kami mulai mendengar pernyataan mengenai wilayah Kaliningrad,” kata Putin, seperti dilaporkan CNN.

Putin menegaskan bahwa jika terjadi serangan langsung terhadap Federasi Rusia, dalam hal ini terhadap Kaliningrad dan mungkin wilayah lainnya, isu penggunaan seluruh persenjataan dalam arsenal negara akan masuk dalam agenda dan tidak dapat dihindari. Pada akhir September, Rusia juga memperingatkan akan membalas jika NATO mencoba memblokade Kaliningrad melalui jalur udara maupun laut.

NATO, sejumlah negara Eropa, dan Inggris menuduh Rusia melancarkan perang hibrida terhadap mereka, termasuk serangan siber, sabotase, dan aksi spionase yang disebut bertujuan melemahkan dukungan terhadap Ukraina. Moskow menyebut perang di Ukraina sebagai “operasi militer khusus”.

Meski bersikap keras, Putin menyatakan Moskow lebih memilih mengakhiri konflik di Ukraina melalui perundingan dan menginginkan negara tersebut menjadi negara netral setelah konflik berakhir. Ia juga membuka kemungkinan pengembalian aset sejumlah perusahaan Barat yang disita Moskow.

Pada bulan sebelumnya, Putin memerintahkan penyitaan bisnis dan aset milik raksasa makanan Swiss Nestle, peritel Prancis Auchan, jaringan toko perlengkapan rumah Leroy Merlin, serta peritel grosir dan makanan Jerman Metro. Pernyataan terbaru Putin menunjukkan bahwa negosiasi damai masih jauh dari kata sepakat.

Dengan posisi Moskow yang menolak gencatan senjata serangan jarak jauh dan Ukraina yang terus mengembangkan kemampuan militernya, termasuk penggunaan rudal FP-7, situasi di medan perang diperkirakan tetap panas memasuki musim dingin. Perhatian dunia kini tertuju pada apakah kedua pihak akan kembali ke meja perundingan atau justru memperbesar skala eskalasi di kawasan Baltik dan Laut Hitam.

Exit mobile version