Cakrawala News – 21 September 2026 | Tung Chee-hwa, pemimpin pertama Hong Kong pascakolonial, dimakamkan secara kenegaraan pada Minggu (20/9), dengan puluhan tokoh politik dan pengusaha menghadiri upacara untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mantan kepala eksekutif wilayah otonomi khusus China tersebut. Tung meninggal dunia pada usia 89 tahun pada 8 September, meninggalkan warisan panjang sebagai figur yang memimpin Hong Kong melewati masa-masa paling menentukan dalam sejarah modernnya.
Upacara pemakaman berlangsung khidmat dengan peti jenazah Tung yang diselimuti bendera nasional China dibawa oleh sejumlah pengusung, termasuk Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee, dari gedung pemakaman sebelum kemudian dibawa untuk dikremasi. Kehadiran John Lee dan sejumlah pejabat tinggi menjadi penanda penghormatan resmi dari pemerintah Hong Kong dan Beijing terhadap jasa-jasa Tung.
Upacara tersebut dipimpin Shi Taifeng, Kepala Departemen Organisasi Partai Komunis China yang juga merupakan anggota Politbiro. Dalam pidatonya, Shi memuji kontribusi Tung terhadap kerangka pemerintahan “satu negara, dua sistem” yang diterapkan China, menurut kantor berita resmi Xinhua.
Selain John Lee, hadir pula Xia Baolong, pejabat Beijing yang menangani urusan Hong Kong. Kehadiran sejumlah nama penting dalam pemerintahan China dan Hong Kong menunjukkan posisi Tung sebagai figur yang dihormati di kedua sisi.
Perjalanan Hidup Sang Pemimpin Pertama
Tung Chee-hwa merupakan seorang pewaris bisnis pelayaran yang kemudian menjadi kepala eksekutif pertama Hong Kong. Ia memperoleh jabatan tertinggi tersebut pada 1996 melalui komite pemilihan yang didukung Beijing, sebuah mekanisme yang membuka jalan bagi kepemimpinannya menjelang penyerahan kedaulatan dari Inggris pada 1997.
Masa kepemimpinannya berlangsung di tengah berbagai tantangan besar. Tung memimpin Hong Kong melalui penyerahan kedaulatan dari Inggris pada 1997, krisis keuangan Asia yang mengguncang perekonomian kawasan, serta wabah SARS pada 2003 yang menimbulkan dampak luas bagi kesehatan publik dan perekonomian wilayah tersebut.
Namun, pada 2005, Tung mengundurkan diri di tengah masa jabatan keduanya. Keputusan tersebut diambil setelah muncul penolakan publik yang luas terhadap rencana pemberlakuan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong. Masyarakat saat itu khawatir aturan tersebut akan mengikis kebebasan sipil.
Meski mengundurkan diri dari jabatan kepala eksekutif, Tung tidak sepenuhnya meninggalkan dunia politik. Ia kemudian menjabat sebagai wakil ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC), badan penasihat politik tertinggi di negara tersebut. Posisi ini menegaskan kedekatannya dengan pemerintahan pusat China setelah berakhirnya masa jabatannya di Hong Kong.
Penghormatan dari Berbagai Pihak
Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri Li Qiang, dan sejumlah pejabat tinggi lainnya menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Tung serta simpati tulus kepada keluarga yang ditinggalkan, demikian lapor Xinhua.
Dalam perjalanan kariernya, Tung pernah mendampingi Presiden Xi Jinping dalam kunjungan ke Amerika Serikat pada 2012 dan 2015. Penampilan publik terakhirnya tercatat pada Juli 2021, sebelum akhirnya tutup usia pada September tahun ini.
Antusiasme masyarakat Hong Kong untuk memberikan penghormatan terakhir juga terlihat dari sejumlah warga yang menandatangani buku belasungkawa untuk mengenang Tung. Pada Sabtu (19/9), Elvis Cheung, 89, menempuh perjalanan lebih dari satu jam untuk memberikan penghormatan terakhir, menunjukkan bahwa sosok Tung masih memiliki tempat di hati sebagian warga.
Pemakaman kenegaraan ini menjadi penanda berakhirnya satu babak penting dalam sejarah Hong Kong pascakolonial. Tung Chee-hwa, pemimpin pertama Hong Kong pascakolonial, dimakamkan secara kenegaraan dengan penghormatan penuh dari pemerintah China dan Hong Kong, mencerminkan posisinya sebagai figur yang berperan besar dalam membentuk arah wilayah tersebut selama masa transisi.
Bagi Hong Kong, kepergian Tung menutup era kepemimpinan generasi pertama setelah penyerahan kedaulatan. Warisan kebijakannya, termasuk berbagai tantangan yang dihadapinya selama memimpin, akan terus menjadi bagian dari narasi besar perjalanan “satu negara, dua sistem” yang hingga kini masih menjadi kerangka pemerintahan wilayah otonomi khusus tersebut.
