Cakrawala News – 07 Oktober 2026 | Kritik terhadap program naturalisasi Timnas Indonesia kembali mencuat setelah sejumlah hasil buruk yang diraih Skuad Garuda dalam beberapa laga terakhir. Wacana bahwa Media Vietnam akui kualitas pemain naturalisasinya tak sebanding timnas Indonesia menjadi salah satu sorotan dalam diskusi publik, seiring penilaian bahwa kehadiran pemain jebolan Eropa belum mampu mendongkrak performa tim di level Asia.
Polemik ini menghangat usai Timnas Indonesia gagal meraih kemenangan atas rival bebuyutannya, Malaysia. Performa Skuad Garuda dinilai menurun dalam beberapa pertandingan terakhir, sehingga memantik pertanyaan soal efektivitas program pemain naturalisasi dan keturunan yang selama ini menjadi tulang punggung tim.
Salah satu pengamat sepak bola dalam negeri, Anton Sanjoyo, menyebut Timnas Indonesia belum memiliki kualitas yang benar-benar mampu bersaing di kancah Asia. Pria yang akrab disapa Bung Joy itu menilai kehadiran para pemain naturalisasi sama sekali tak mencerminkan kualitas pemain jebolan liga-liga Eropa.
“Ini tim, betul-betul menurut saya tidak punya karakter yang cukup untuk berbicara lebih banyak di level elite Asia. Saya melihat dalam dua pertandingan melawan Singapura dan pertandingan terakhir melawan Malaysia, betul Indonesia bermain dengan 10 pemain. Tetapi dengan 10 pemain, banyak tim juga bisa meraih kemenangan dan tampil dominan. Jadi kalau kita bicara skuad yang mewah, pemain yang dibesarkan di luar negeri, di Belanda, di negara-negara Eropa, kita tidak melihatnya kemarin di lapangan,” ujar Anton Sanjoyo.
Pernyataan tersebut dinilai beralasan mengingat tren performa Timnas Indonesia yang cenderung menurun. Pada ajang ASEAN Hyundai Cup 2026, Skuad Garuda yang disebut memiliki skuad termahal di turnamen justru gagal lolos dari fase grup setelah hanya menempati peringkat ketiga di klasemen akhir Grup A.
Melansir pemberitaan Suara.com pada 26 September 2026, performa buruk di ASEAN Hyundai Cup 2026 itu dianggap masih berlanjut di ajang FIFA ASEAN Cup 2026. Alih-alih mendominasi turnamen, Timnas Indonesia harus bersusah payah meraih kemenangan.
Sorotan terhadap John Herdman
Lebih lanjut, Anton Sanjoyo menilai performa kurang memuaskan Timnas Indonesia turut dipengaruhi oleh John Herdman selaku pelatih kepala. Menurutnya, pelatih asal Inggris tersebut kurang mampu memaksimalkan performa skuad dan kualitas individu para pemain yang ada di tim nasional saat ini.
Ia pun menyarankan PSSI melakukan evaluasi ketat terhadap John Herdman jika ingin performa Timnas Indonesia kembali membaik. Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar kualitas pemain, melainkan strategi dan cara bermain sepak bola yang diterapkan tim.
“Jadi ini ada masalah besar dalam strategi, dalam cara bermain sepak bola, karena ini kurang lebih tim yang sama dengan tim 1-2 tahun yang lalu, hanya ada beberapa penambahan pemain. Kita harus betul-betul sudah harus mengevaluasi secara ketat. Karena dengan skuad yang paling baik, bukan mewah menurut saya, ini paling baik untuk sekarang, harusnya John Herdman bisa berbuat lebih banyak terhadap tim ini,” imbuh Anton Sanjoyo.
Pandangan tersebut menyoroti bahwa komposisi pemain yang dinilai mumpuni belum diimbangi dengan pola permainan yang mampu mengangkat performa tim secara keseluruhan. Kritik pun mengarah pada kebutuhan pembenahan taktik dan pendekatan kepelatihan, bukan semata soal latar belakang pemain.
Isu Media Vietnam akui kualitas pemain naturalisasinya tak sebanding timnas Indonesia menempatkan perdebatan ini dalam konteks regional. Publik sepak bola Asia Tenggara menyoroti bagaimana negara-negara tetangga mengembangkan skuadnya, termasuk melalui pemain keturunan, namun hasil di lapangan tetap menjadi tolok ukur utama.
Di sisi lain, kritik terhadap program naturalisasi tidak serta-merta berarti program tersebut harus dihentikan. Sejumlah pihak menilai persoalan utama terletak pada bagaimana pemain-pemain tersebut diintegrasikan ke dalam sistem permainan yang jelas dan konsisten.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari PSSI maupun John Herdman terkait desakan evaluasi tersebut. Publik menantikan langkah konkret manajemen tim nasional dalam merespons rentetan hasil kurang memuaskan, terutama menjelang agenda pertandingan berikutnya.
Bagi Timnas Indonesia, sorotan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan tim secara menyeluruh. Kualitas individu pemain naturalisasi tetap menjadi aset, tetapi tanpa strategi yang tepat dan karakter permainan yang kuat, target bersaing di level elite Asia akan sulit diwujudkan.
