Prancis Desak Israel Seret Penyerang Diplomat Eropa ke Pengadilan Usai Insiden di Tepi Barat

Prancis Desak Israel Seret Penyerang Diplomat Eropa ke Pengadilan Usai Insiden di Tepi Barat
Prancis Desak Israel Seret Penyerang Diplomat Eropa ke Pengadilan Usai Insiden di Tepi Barat

Cakrawala News – 19 Oktober 2026 | Prancis desak Israel seret penyerang diplomat Eropa ke pengadilan setelah sekelompok pemukim bertopeng menyerang iring-iringan kendaraan diplomatik di dekat Desa Taybeh, Tepi Barat yang diduduki, Sabtu (17/10/2026). Serangan itu menyasar konsul jenderal Belgia, diplomat Prancis dan Polandia, perwakilan Gereja Katolik, serta seorang wali kota asal Prancis yang ikut dalam kunjungan tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Pascal Confavreux, menyatakan Paris mengecam keras tindakan itu. Dalam pernyataan yang dirilis Minggu (18/10), ia menegaskan bahwa perwakilan sejumlah misi diplomatik, termasuk Konsul Jenderal Prancis di Yerusalem beserta mitranya dari Belgia dan Polandia, menjadi sasaran dan mengalami pelecehan dalam serangan tersebut.

Prancis pun mendesak otoritas Israel menangkap pihak-pihak yang bertanggung jawab dan membawa mereka ke pengadilan. Paris juga menyampaikan dukungan dan solidaritas kepada para korban serta menegaskan kembali komitmennya terhadap misi diplomatik di wilayah itu.

Kronologi Serangan di Taybeh

Insiden bermula ketika delegasi Eropa menghadiri penandatanganan perjanjian kerja sama antarkota antara Taybeh dan sebuah kota di Prancis. Wali Kota Taybeh, Suleiman Khoury, menjelaskan bahwa setelah acara resmi tersebut, para pejabat menuju perkebunan zaitun milik warga Palestina untuk menyaksikan musim panen. Mereka didampingi sejumlah warga setempat.

Di tengah perjalanan, sekitar sepuluh pemukim yang datang dari tujuh pos permukiman tiba-tiba menghalangi dan menyerang rombongan. Menurut Khoury, para penyerang datang dengan mengendarai traktor, sebagian membawa tongkat bisbol, dan mengepung kendaraan diplomatik.

Kaca kendaraan delegasi Belgia pecah akibat serangan itu. Dua warga Palestina dilaporkan terluka, sementara seluruh diplomat berhasil selamat. Bernard Baudoux, wali kota Aulnoye-Aymeries di Prancis utara, mengaku ditendang dan dipukul dengan batang besi. Rekaman video dari lokasi memperlihatkan Baudoux dalam kondisi berantakan, duduk di dekat sebuah mobil jip dengan selempang berwarna bendera Prancis.

“Mereka tiba dalam keadaan sangat marah. Sungguh luar biasa bahwa para pemukim bisa berperilaku seperti ini,” ujar Baudoux, sebagaimana dikutip AFP dan Le Monde.

Baudoux menyalahkan Pemerintah Israel atas insiden tersebut. Menurutnya, serangan semacam itu bisa terjadi karena Tel Aviv tidak pernah menghukum para pemukim yang melakukan tindakan anarkis di Tepi Barat. “Saya pikir, jika para pemukim berperilaku seperti ini, itu menunjukkan adanya toleransi dari pihak Pemerintah Israel,” katanya.

Kecaman Belgia dan Polandia

Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, mengutuk sekeras-kerasnya serangan oleh pemukim bertopeng di Taybeh. Ia mengonfirmasi bahwa seorang wali kota Prancis mengalami kekerasan fisik dan kendaraan diplomatik Belgia dirusak, sementara timnya dalam keadaan aman.

“Memanen zaitun, melaporkan berita, atau menjalankan tugas diplomatik tidak boleh membuat siapa pun menghadapi risiko serangan,” tulis Prevot di platform X.

Ia menegaskan bahwa warga Palestina menghadapi kekerasan semacam itu setiap hari, dan menuntut otoritas Israel melindungi warga sipil Palestina serta menjamin keselamatan diplomat asing dan jurnalis. “Impunitas bagi pemukim yang melakukan kekerasan harus diakhiri,” ujarnya.

Prevot juga mengaitkan insiden itu dengan kebijakan permukiman Israel yang lebih luas. Ia menyatakan Belgia akan terus mendorong penerapan sanksi Uni Eropa terhadap Israel dan menegaskan bahwa pendudukan wilayah Palestina harus diakhiri.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Polandia, Maciej Wewiór, mengecam serangan terhadap para diplomat sebagai tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.

Respons Otoritas Israel dan Konteks Panen Zaitun

Militer Israel menyatakan kunjungan delegasi konsuler tersebut tidak dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihaknya. Secara terpisah, kepolisian Israel mengumumkan telah membuka penyelidikan atas insiden itu.

Menurut laporan Israeli Army Radio, aktivis yang mendampingi para diplomat Eropa mengirimkan lokasi kejadian dan bukti video kepada pusat operasi militer Israel dua menit setelah serangan dimulai. Namun, laporan tersebut menyebut tidak ada personel militer maupun kepolisian Israel yang tiba di lokasi selama tiga jam setelah laporan disampaikan untuk membantu para diplomat, mengambil keterangan, atau mengumpulkan bukti.

Khoury menggambarkan serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesucian kerja diplomatik dan kemanusiaan, sekaligus bagian dari pembatasan yang terus dihadapi petani Palestina.

Insiden ini terjadi di tengah musim panen zaitun yang dimulai awal Oktober, sumber pendapatan penting bagi ribuan keluarga Palestina. Organisasi hak asasi manusia Palestina, Israel, dan internasional menuduh otoritas Israel gagal menghentikan kekerasan pemukim atau meminta pertanggungjawaban pelakunya. Permukiman Israel yang dibangun di wilayah Palestina yang diduduki dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Desakan Prancis agar Israel menyeret penyerang diplomat Eropa ke pengadilan menjadi ujian bagi komitmen Tel Aviv terhadap hukum internasional. Perhatian kini tertuju pada langkah konkret kepolisian Israel dalam penyelidikan, serta apakah tekanan negara-negara Eropa akan berujung pada tindakan nyata, termasuk pembahasan sanksi di tingkat Uni Eropa.

Exit mobile version