AS Desak Israel Selidiki Serangan Pemukim ke Jurnalis Washington Post Heidi Levine

AS Desak Israel Selidiki Serangan Pemukim ke Jurnalis Washington Post Heidi Levine
AS Desak Israel Selidiki Serangan Pemukim ke Jurnalis Washington Post Heidi Levine

Cakrawala News – 19 Oktober 2026 | Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendesak Israel menyelidiki serangan pemukim ilegal terhadap jurnalis foto The Washington Post, Heidi Levine, di Tepi Barat. Desakan AS desak Israel selidiki serangan pemukim ke jurnalis Washington Post ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menegaskan Washington sangat terganggu dengan insiden tersebut dan meminta otoritas Israel menindak tegas para pelaku.

“Kami sangat terganggu dengan gambar-gambar tersebut dan apa yang kami saksikan. Kami telah meminta pihak Israel, dan terus mendesak mereka, untuk menindak tegas hal-hal semacam itu,” ujar Rubio di Maryland, Minggu (18/10), seperti dikutip Al Jazeera.

Pernyataan Rubio muncul setelah beredar luas video yang memperlihatkan para pemukim ilegal menyerang Levine, jurnalis foto senior berusia 64 tahun yang tengah meliput panen zaitun warga Palestina. Kedutaan Besar AS di Yerusalem bersama Kementerian Luar Negeri AS mengecam kekerasan itu dan menuntut penangkapan serta hukuman bagi para pelaku.

Kronologi Penyerangan di Abu Falah

Insiden bermula pada Jumat (16/10/2026) ketika Levine meliput warga Palestina yang memanen zaitun di dekat Desa Abu Falah, timur laut Ramallah. Sekitar 80 pemukim bertopeng dan berpakaian serbahitam turun dari perbukitan menuju perkebunan zaitun milik warga, membawa batu, tongkat pemukul, tabung gas, hingga senjata api.

Para pelaku melontarkan batu menggunakan ketapel ke arah warga yang tengah memetik hasil kebun. Warga desa sempat berusaha menjauh ke lereng bukit sebelum membalas lemparan batu untuk membela diri. Situasi kian tegang saat dua mobil militer tiba di lokasi dan melepaskan gas air mata ke arah para petani, sementara seorang pemukim melepaskan tembakan menggunakan peluru tajam.

“Para pemukim berniat menyerang serta mengusir kami dari tanah tempat tinggal kami sendiri,” ujar seorang petani setempat, Moutaz Abdelhadi, dilansir The Guardian.

Levine yang saat itu mengenakan rompi pers dan helm pelindung turut menjadi sasaran. Sekitar lima hingga enam pemukim mengepung, mendorongnya ke tanah, lalu terus memukuli dan menendangnya dengan tongkat selama kurang lebih sepuluh menit. Para pelaku juga merampas kamera, ponsel, dompet, serta paspor miliknya sebelum rekan jurnalis dan pemuda Palestina datang menolong.

“Kami melihat ada seorang jurnalis terkapar di tanah dikerumuni orang-orang yang memukulinya, memukul dengan tongkat, merampoknya, menariknya berdiri, memukulinya lagi, dan menendangnya,” ujar Jasper Nathaniel, jurnalis independen yang menyaksikan serangan tersebut kepada Al Jazeera.

Akibat serangan itu, Levine mengalami patah tulang rusuk, patah empat tulang belakang, luka tusuk, serta cedera parah pada jari tangan kiri yang membuatnya harus menjalani operasi di rumah sakit pada Sabtu. Ia dirawat di Rumah Sakit Pemerintah Ramallah.

“Mereka terus menendang saya berkali-kali, mungkin sekitar 50 kali. Beruntung saya memakai rompi antipeluru dan helm, jika tidak saya mungkin sudah tidak ada di sini,” kata Levine, dilansir ABC News.

Kecaman Washington Post dan Anggota Parlemen AS

Serangan ini memicu kemarahan manajemen Washington Post serta sejumlah anggota parlemen AS. Pemimpin Redaksi Washington Post, Matt Murray, menegaskan identitas Levine sebagai pekerja media terlihat sangat jelas saat puluhan pelaku menyerangnya.

“Meski lega Heidi telah mendapat perawatan medis dan aman, kami sangat marah atas serangan tak berdasar terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya ini dan mendesak penyelidikan menyeluruh serta tindak lanjut dari pihak berwenang,” ujar Murray, dilansir The New Arab.

Senator Partai Demokrat asal Illinois, Tammy Duckworth, menuntut otoritas Israel mengadili para pelaku dan berhenti membiarkan upaya aneksasi di Tepi Barat demi keselamatan warga di kawasan tersebut. Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ro Khanna, bahkan mendesak pemerintahannya segera menghentikan bantuan dana untuk aktivitas pemukim serta menyetop penjualan senjata ke Israel.

Kecaman serupa datang dari Asosiasi Pers Asing (FPA), Reporters Without Borders (RSF), dan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ). Mereka menilai otoritas Israel kerap mengabaikan aksi kekerasan pemukim ekstremis dan menuntut militer Israel berhenti mencari alasan serta segera mengakhiri impunitas hukum bagi para pelaku kekerasan terhadap warga sipil maupun jurnalis di Tepi Barat.

Respons Israel dan Sorotan Kebijakan Trump

Menanggapi insiden ini, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan bahwa pemeriksaan fakta atas peristiwa di lapangan tengah berjalan. Polisi dan militer Israel disebut membuka penyelidikan, meski Netanyahu meragukan kronologi yang beredar.

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, turut menyuarakan kecaman keras. Melalui unggahannya di platform X, ia menyebut serangan terhadap Levine sebagai tindakan pengecut.

Terkait keputusan Presiden Donald Trump mencabut sanksi terhadap para pemukim ilegal Israel di awal masa jabatannya tahun lalu, Rubio menegaskan langkah itu bukan berarti mendukung tindakan kekerasan seperti yang dialami Levine. “Pencabutan sanksi tidak berarti dia mendukung apa yang kini terjadi,” tegas Rubio.

Rubio juga menyampaikan bahwa Trump menegaskan keinginannya agar tidak muncul ketegangan atau krisis baru di Tepi Barat. Menurutnya, pemerintahan AS akan menyampaikan harapan kepada pihak Israel untuk mencegah hal serupa terjadi di masa depan. “Kita tidak membutuhkan hal itu saat ini, Israel pun tidak membutuhkannya saat ini,” ucap Rubio.

Kekerasan Meluas Selama Musim Panen Zaitun

Serangan di Abu Falah bukan insiden tunggal. Sehari sebelumnya, aksi serupa juga terjadi di kawasan Turmus Ayya, saat sekelompok pemukim dilaporkan memukuli petani dan membakar tiga unit mobil warga, termasuk satu kendaraan milik tim pertahanan sipil Palestina.

Pada Sabtu (17/10/2026), sekelompok pemukim bertopeng dan bersenjata batang besi menyerang rombongan diplomat Eropa yang berkunjung ke Desa Taybeh, Tepi Barat. Para pemukim menyerang konsul jenderal Belgia, sejumlah diplomat Prancis dan Polandia, serta perwakilan komunitas Katolik.

Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot mengaitkan serangan tersebut dengan kebijakan Israel yang terus membangun permukiman ilegal di wilayah Palestina. Ia berjanji akan mendorong Uni Eropa menjatuhkan sanksi tambahan. “Para pemukim yang melakukan kekerasan tidak boleh terus dibiarkan lolos dari jerat hukum,” tegas Prevot seperti dilaporkan Associated Press.

Lembaga pemantau hak asasi manusia Yesh Din mencatat setidaknya ada 170 serangan sejak akhir September, menewaskan empat warga dan melukai lebih dari seratus orang lainnya. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya empat orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka sejak musim panen zaitun dimulai awal Oktober. Ribuan pohon zaitun juga dilaporkan rusak akibat ditebang maupun dibakar.

Desakan AS desak Israel selidiki serangan pemukim ke jurnalis Washington Post kini menjadi ujian bagi komitmen Washington dalam menekan kekerasan pemukim. Publik akan menantikan apakah penyelidikan Israel berujung pada penuntutan, atau kembali berakhir tanpa pertanggungjawaban seperti yang dikhawatirkan organisasi pers internasional. Perkembangan penyelidikan dan sikap Uni Eropa terhadap sanksi tambahan menjadi hal yang perlu terus dipantau.

Exit mobile version