Cakrawala News – 19 Oktober 2026 | Satelit NASA deteksi karbon monoksida pekat di atmosfer Indonesia, ini bahayanya menjadi perhatian setelah visualisasi NASA Eyes on the Earth periode 16-18 Oktober 2026 memperlihatkan sebaran gas tersebut membentang di atas sejumlah wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Peta itu didominasi warna merah yang menandakan konsentrasi karbon monoksida (CO) relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Meski demikian, para ahli menegaskan warna merah pada peta tidak otomatis berarti udara di permukaan berbahaya untuk dihirup.
Data yang ditampilkan NASA berasal dari instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua. Parameter yang diukur adalah daily CO at 500 mb (ppbv), yakni konsentrasi karbon monoksida pada lapisan atmosfer bertekanan sekitar 500 milibar atau ketinggian kurang lebih 5.500 meter di atas permukaan laut. Skala warna dalam peta berkisar dari 0 hingga 160 parts per billion by volume (ppbv), dengan warna merah menunjukkan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan biru atau hijau.
Memahami Arti Warna Merah di Peta
Direktur Layanan Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Marjuki, menjelaskan bahwa citra NASA tersebut memperlihatkan sebaran gas pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar atau 5-6 kilometer di atas permukaan bumi. Menurutnya, peta itu tidak otomatis menunjukkan kadar udara yang dihirup masyarakat.
Marjuki menyatakan warna merah hingga jingga menunjukkan jumlah CO di lapisan tersebut relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain. Namun, warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang dihirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan, dan tidak memastikan sumber emisi di setiap wilayah yang berwarna. Dengan kata lain, pemantauan satelit menggambarkan kondisi atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan tingkat paparan langsung yang dialami warga di permukaan.
Pemantauan periode 16-18 Oktober ini melanjutkan pengamatan sebelumnya pada 13-15 Oktober yang juga menunjukkan sebaran luas. Meski demikian, diperlukan perbandingan data pada lokasi dan ketinggian yang sama untuk memastikan apakah konsentrasinya meningkat atau menurun.
Karbon Monoksida dan Kaitannya dengan Karhutla
Karbon monoksida merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang terbentuk dari pembakaran tidak sempurna. Sumbernya beragam, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga pembakaran bahan bakar lain seperti kompor gas dan pemanas ruangan. Ketika karhutla terjadi, api yang membakar vegetasi, semak, hingga lahan gambut melepaskan emisi karbon monoksida dalam jumlah besar bersama asap dan partikulat lainnya.
NASA menjelaskan bahwa karbon monoksida dapat bertahan di atmosfer selama sekitar satu bulan. Selama periode itu, gas dapat terbawa angin dan menyebar melintasi pulau, bahkan melewati batas negara. Karena sifatnya itulah, wilayah yang tampak merah pada peta belum tentu berada tepat di atas titik lokasi karhutla yang sedang membara.
Selain instrumen AIRS pada satelit Aqua, data sejenis juga pernah dirilis melalui instrumen Measurements of Pollution in the Troposphere (MOPITT) pada satelit Terra. Pengukuran tersebut mendeteksi rata-rata konsentrasi gas di lapisan troposfer pada ketinggian sekitar 12.000 kaki atau 3.700 meter di atas permukaan laut. Perbedaan instrumen dan ketinggian pengukuran ini penting dipahami agar publik tidak menyamakan data satelit dengan hasil pemantauan kualitas udara di permukaan tanah.
Bahaya Karbon Monoksida bagi Kesehatan
Meski peta satelit tidak menggambarkan paparan langsung, karbon monoksida tetap perlu diwaspadai. Menurut Kementerian Kesehatan, paparan gas ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, mulai dari sakit kepala, pusing, mual, hingga lemas. Pada kondisi yang lebih parah, keracunan CO dapat menyebabkan gangguan kesadaran hingga kematian.
Ketika terhirup, karbon monoksida masuk ke paru-paru dan berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah dengan afinitas jauh lebih tinggi daripada oksigen. Akibatnya, kemampuan darah mengangkut oksigen ke organ vital seperti otak dan jantung dapat terganggu. Paparan terus-menerus juga dikaitkan dengan penyakit yang berkaitan dengan jantung, termasuk gangguan kardiovaskuler lainnya.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih. Paparan asap dapat memperburuk kondisi kesehatan yang telah ada dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama jika berlangsung berulang atau dalam jangka panjang.
Dampak Lingkungan dan Lintas Batas
Selain berdampak pada manusia, karhutla yang memicu lonjakan CO juga mengancam satwa liar dan hewan ternak. Paparan asap dan gas berbahaya dapat mengganggu kesehatan hewan, sementara kebakaran secara langsung dapat menyebabkan kematian serta merusak habitat. Hilangnya vegetasi mengurangi ketersediaan sumber makanan dan tempat berlindung, sehingga sejumlah satwa berpotensi berpindah ke kawasan permukiman dan meningkatkan risiko konflik dengan manusia.
Dalam skala lebih luas, sebaran asap dan emisi CO yang terbawa angin berpotensi mengganggu negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura. Fenomena asap lintas batas ini kerap menurunkan indeks kualitas udara di kawasan regional, memicu kekhawatiran kesehatan masyarakat internasional, serta mengganggu sektor penerbangan dan ekonomi antarnegara.
Partikulat asap dan sisa pembakaran juga membawa senyawa karbon berbahaya yang dapat mengendap di permukaan tanah dan badan air, merusak kualitas unsur hara, serta mencemari sumber air terbuka. Di atmosfer, karbon monoksida turut memengaruhi proses kimia yang mengatur keberadaan sejumlah gas. CO bereaksi dengan radikal hidroksil (OH), molekul yang berperan menguraikan berbagai senyawa termasuk metana. Ketika radikal hidroksil bereaksi dengan CO, kemampuannya menguraikan metana berkurang sehingga umur metana di atmosfer berpotensi meningkat dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Langkah Antisipasi
Untuk menekan dampak karhutla, upaya pencegahan dan pemadaman perlu diperkuat melalui koordinasi antara Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Masyarakat juga diminta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan instansi terkait.
Ketika kualitas udara memburuk, warga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker respirator seperti N95 untuk mengurangi paparan partikel asap. Perlindungan tambahan perlu diberikan kepada kelompok rentan serta hewan peliharaan dan ternak.
Fenomena yang kembali membuat satelit NASA deteksi karbon monoksida pekat di atmosfer Indonesia, ini bahayanya menjadi pengingat bahwa pencemaran udara tidak selalu bisa dinilai hanya dari kondisi langit yang terlihat mata. Gas pencemar dapat bertahan di atmosfer dan berpindah mengikuti arah angin, sehingga sebarannya bisa meluas jauh dari sumber emisi. Publik perlu membaca peta satelit secara tepat, tanpa panik, namun tetap waspada terhadap kondisi kualitas udara di permukaan yang dilaporkan otoritas berwenang.
